Sabtu, 29 November 2014

Di Balik Doa

Hari ini mulai ku tulis sebuah alur hidupku yang banyak melibatkan air mata. Tentang pahitnya menghadapi kenyataan yang sebenarnya harus selalu aku lewati, Memohon agar dapat diberikan umur yang panjang adalah doa yang paling sederhana yang paling sering ku ucapkan. Bersamaan dengan jatuhnya air mata ku, doa selanjutnya adalah meminta diangkatnya segala penyakit dan bisa bersama sama merasakan kebahagiaan yang lebih lama. Sebuah doa yang sangat sederhana yang terukir setiap aku sholat.
Seperti menyimpan bom waktu di setiap sisa hidup, menunggu detik detik terlewatkan, dan tak tahu pada saat kapan detik itu akan berhenti dan menyisakan banyak tangisan di kuping yang sudah terbaring kaku. Aku bukanlah yang maha tegar, bukan pula maha pengikhlas. Harus selalu menyembunyikan rasa hancur ini di depan semua orang, tersenyum di balik kesedihan.
Aku tau, dengan mudah waktu akan menyapu kita bagaikan hamparan sampah jalanan, mungkin kita hanya bisa melihat bagaimana kita dikenang untuk yang terakhir kalinya. Rasa takut kehilangan adalah menu utama yang selalu hadir di pagi, siang dan malamku. Memunafikan diri dengan banyak berhayal tentang kebahagiaan yang mungkin sebentar lagi akan hilang.
Aku begitu hancur menyaksikan semuanya, maha dasyat sakitnya terombang ambing air mata yang tak dapat lagi mampu terurai, hanya butuh sedikit sisaan air mata untuk yang terakhir kalinya saat kita benar benar berpisah. Begitu banyak pengorbanan, kasih sayang, senyuman, dan air mata yang menghiasi setiap jejak langkah hidup ini.
Tuhan begitu hebat, membuat setiap detik penuh dengan susunan takdir yang begitu sempurna, begitu besar kekuasaannya sehingga kita hanya dapat menerima dengan sejuta bahasa perasaan takdir yang ia gambarkan. Mungkin tuhan ingin menguji seberapa cinta kita terhadap NYA, dengan perlahan mengenalkan kita kepada takdir yang mungkin pahit untuk kita rasakan, tapi ternyata tuhan begitu adil, memberikan kesempatan dengan perasaan yang seutuhnya untuk selalu mengingatnya dengan sisa hidup ini.
Itulah tuhan, mampu membuat rencana sesukanya, mampu membuat siapa saja menjadi ketakutan. Serasa tak ada lagi kabar baik yang ku dapat di dalam hidupku, entah kemurkaan apa yang tuhan beri sampai tak ada sedikit usapan air mata untuk aku dan keluargaku, mungkin ini adalah salah satu cara agar aku mampu berdiri mengartikan hidup ini dengan kedewasaanku.
Kadang aku iri dengan kehidupan ku yang lain, mungkin belum sempat kita bercerita dengan kebahagiaan dan cerita yang menyenangkan, salah dari kita menceritakan hal yang membuat kita terpuruk, itulah hati yang pilu hanya bisa menangis dan membagi penderitaannya. Bisa dibilang cobaan adalah makanan sehari hari yang lazim kita dapat, mungkin tak seorang pun mampu melewatinya jika di posisi aku, semua kejadian ini membentuk aku menjadi wanita yang kuat, tegar dan realistis dalam menghadapi kehidupan.
“aku akan berhenti, jika aku tak sanggup, tapi aku akan bertahan, jika ini semua membuat ku bangkit”. selalu kata kata itu menyemangati dari dalam hati.
Jika nanti aku bisa bahagia dengan keluargaku, tertawa lepas tanpa ada ketakutan, bahkan tekanan, aku akan melukiskan ke bahagiaanku lewat air mata air mata kebahagiaan pertamaku.
Mungkin terlalu banyak dosa yang telah diperbuat, menghadiahkan begitu banyak cobaan yang terkala membuat aku ingin pergi meninggalkan ini semua. Mendapatkan sebuah keluarga yang utuh, lengkap, saling menyayangi, adalah impian semua orang. Aku mendapatkannya di sini. banyak hal yang kita sudah lewati semua, banyak pelajaran yang membuat kasih sayang kita terbentuk erat, sulit rasanya memisahkan kita satu sama lain.
Terasa semakin dekat, semua hal yang menyakitkan semakin datang, setiap hari hanya mendengarkan rintikan air mata sedu, menandakan kesakitan amat dalam. Dari mulai mama, adikku si sulung, tengah sampai si bungsu menangis menyayat hati, lirih seakan aku ingin mengiris kuping agar tidak merasa iba dengan semuanya. Aku berfikir sampai kapan ini semua terjadi, masihkan aku dapat menuliskan ceritaku? Saat semua terasa pahit dan berakhir pada waktu yang telah tiba, ingin aku menjadikan ini semua adalah tulisan cerita terindah yang pernah ku alami dengan mama, papa, dan keluargaku tersayang, they mine.


Cerpen Karangan: Rinjani Oryza Sativa
Facebook: Rinjani Oryza Sativa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar