Nama : Eko Prasetio
Kelas : IX-D
No.Absen : 2
Minggu, 14 Desember 2014
Sabtu, 29 November 2014
Akhir UAS
“Selamat tinggal Ulangan Akhir Semester satu… bye…!!!” itulah kata terakhir yang aku ucapkan setelah selesai UAS. Ulangan UAS bikin aku jengkel. Mungkin kalau orang lain ditanya mana ulangan yang paling sulit ya, pelajaran Matematika. Tapi aku katakan ‘no’ karena menurutku matematika akan lebih mudah jika kita mengetahui rumus dan pastinya isinya tersebut tepat, sama dan tidak ada pilihan yang membuat ragu untuk diisi. Nah pelajaran yang menurutku gampang dipelajari tapi susah dimengerti adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karena bahasa Indonesia perlu kecermatan untuk memilih jawaban, pilihan a-e itu hampir sama dan pastinya akan terkecohkan. Sedangkan bahasa Inggris, kita hanya menghapal aturan Tenses dan kata kerja seperti verb 1, verb 2 dan verb 3 tapi itu tidak cukup. Saat ulangan bahasa Inggris, soalnya itu bikin kita males ngerjainnya. Karena pasti ada kata-kata yang engga kita kenal. Engga tahu itu kata kerja atau kata sifat atau apapun lah. Pelajaran itulah yang bikin konsentrasi buyar.
Tapi guys, selama ulangan pasti kita dapat pengalaman dan hal-hal yang tak terlupakan. Asyik deh kalau udah diribetin sama ulangan. Biasanya aku jarang belajar, cuma pas ada pr doang belajar. Tapi pas ulangan jadi giat belajar. Intinya belajar pas mau ulangan sih, supaya bisa ngerjain dan engga nyontek sama temen. Tapi ada aja setan yang bisikin ke telinga supaya nanya jawaban ke temen, nyontek ke buku. Kadang-kadang yang pelit ngasih jawaban dimusuhin atau dipelitin lagi kalau dia engga bisa ngerjain. Tapi inget, kita bakal nyesel pas udah ngerasain kerasnya hidup dan bagaimana kita hidup tanpa ada yang peduli sama kita.
Disini aku bakalan nulis sebuah cerita yang cukup singkat. Kenapa aku bakalan nulis cerita singkat ini karena cerita ini nyata dan bikin aku nangis.
Awal mulanya, saat hari terakhir ulangan. Bu guru yang ngawas kita lumayan tegas dan sedikit galak. Ini satu-satunya guru yang tegas ngawas kita. kalau yang kemarin-kemarin sih biasa aja. mau ribut, mau nyontek gurunya cuma bilang ‘sssttt’ doang. Tapi guru yang satu ini beda.
“Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh” Bu guru itu menyapa kita. dan kita jawab “waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh”. Sewaktu bu guru natap kita dan melihat wajahnya saja kita sudah tahu karakter ibu guru tersebut. Sampai ada yang bilang “kayanya galak deh”. Mungkin kedengeran sama bu guru tapi dia abaikan. Bu guru itu asing menurut kita. karena beliau jarang terlihat dan mungkin engga ngajar Cuma sebatas punya jabatan di sekolah ini.
Beliau belum tahu karakter anak-anak kelas ini. Saat beliau masuk pas banget saat kita lagi ribut dan bercanda. Terlihat di dahi beliau yang mengkerut saat masuk ke kelas kita. Nah disitu kita bisa menilai bu guru tersebut. Yang biasanya kita minta jawaban sama temen, nyontek maupun diskusi itu gak bisa (jangan dicontoh ya teman-teman). Bikin kita tegang pas ulangan, apalagi bu guru nya gak bisa diam mondar-mandir ke depan ke belakang.
Tapi kita selamat. Setiap siswa tidak ada yang dapat masalah karena nyontek. Setelah kita selesai ulangan bu guru tersebut meninggalkan kelas. Tapi tiba-tiba kembali ke kelas lagi dan memanggil seseorang. “sini… jangan dihapus, kalau kamu hapus semakin kamu punya masalah besar dengan ibu”. Pastinya kita sekelas kaget dong dengan kata-kata ibu dan langsung mencari siapa yang dimaksud ibu. Aku kira sih, ada yang belum ngumpulin dan ngehapus isi lembar jawaban diganti sama yang benar setelah ibu pergi. Tapi aku lihat engga ada tuh, Cuma teman aku yang lagi pegang handphone ngehadap ke belakang. Dan semua tertuju pada temen aku. Aku sebut saja Lila nama samaran.
Oh ternyata… dia yang ibu maksud. Mungkin dalam hatinya “dag, dig, dug” saat ibu guru manggil dia. ibu guru coba panggil beberapa kali dan temen aku engga mau ngehadap ke arah beliau malah membelakanginya dari jauh. Mungkin begitu kesalnya dengan sikap temanku. Bu guru mendatangi dan mengambil handphonenya dan mencatat namanya. Setelah itu bu guru pergi sambil membawa handphonenya.
Wajah Lila mulai terlihat sedih dan akhirnya menangis. Dia pun menceritakan apa yang dia alami dan hampir pingsan. “ibu itu gak punya perasaan. Padahal udah selesai ulangan. Dan di hp aku gak ada apapun. Gak ada yang negatifnya. Itu hp satu-satunya yang aku punya”. Teman-taman pun memberi kekuatan kepada Lila.
Setelah itu Lila merasa tidak ada yang bisa dilakukan selain memberitahu ibunya hari ini juga. Lalu dia menelpon ibunya menggunakan handpone milik teman sebangkunya. Dia menceritakan masalah tersebut kepada ibunya dan dia memohon agar ibunya mengambil handphonenya. Setelah semuanya keluar dari kelas. Lila dipanggil oleh ibu yang mengambil handphonenya tersebut. Kalau engga salah namanya itu ibu Ike.
Seperti biasa setelah kita belajar. Kita nongkrong di perpus sebut saja itu basecam kita. karena perpus tempatnya mencari wifi bukan buku. Haha… bercanda perpus tempatnya belajar dan mencari buku. Tapi benar kok di perpus suka banyak wifi dan pecinta wifi suka nongkrong di perpus termasuk aku.
Yuk, kita lanjut. Nah di perpus Lila menceritakan yang sebenarnya kepada semua teman-teman yang ada disitu dan menceritakan juga kepada ibu pengawas perpus yang sudah amat dekat dengan kita sebut saja ibu yani nama samaran. Lila mulai menangis. Dia menagis karena ibunya datang ke sekolah hanya untuk dipermalukan oleh ibu Ike. Dalam ceritanya bahwa Lila ikut mendengarkan yang ibu Ike sampaikan kepada ibunya. Di Ruang BK ibu Lila menemui Ibu Ike dan ibu Ike mengatakan “saya tahu apa maksud ibu datang kesini. Pasti ibu mau mengambil hp anak ibu. Tapi saya tidak bisa mengembalikannya. Saya tidak menganak emaskan setiap siswa disini. Kalau saya mengembalikan hp anak ibu saya bisa didemo sama wali-wali yang lain. Tapi untung aja hp anak ibu tidak ada apa-apa. Tapi tetap saya razia hp anak ibu selama 6 bulan sama seperti yang lainnya. Nah untuk anak ibu, saya tidak suka etikanya. Menurut saya, Anak ibu tidak mempunyai etika yang benar. Dia bukannya menghampiri saya malah membelakangi saya”. Lalu dengan nada akan menagis Lila berkata “loh, saya refleks bu, ibu tiba-tiba balik lagi ke kelas dan ada di hadapan saya. Ya saya langsung membalik”. Setelah perdebatan itu selesai ibu Lila pulang dan Lila memutuskan untuk tetap di sekolah.
Menurut Lila “Ibu Ike itu kejam. Dia engga punya perasaan. Aku dibilang engga punya etika di depan mamahku. Aku tahu yang dirasain mamah saat ibu Ike bilang gitu. Secara engga langsung bu Ike itu bilang Mamahku tuh kaya engga bisa ngedidik aku dengan benar. aku sayang sama mamah. Aku engga mau sampai mamah dibilang kaya gitu. Biar aku aja yang dimarahi, dijelekin sama ibu Ike. Jangan mamahku. Aku tahu, mamahku juga mau nangis tapi dia tahan. Aku nyesel udah nelpon mamah dan nyuruh mamah ke sekolah buat ngambil handphone yang nyatanya handphonenya ga bisa diambil. Aku harusnya intropeksi diri. Ini masalah aku, aku udah gede ngapain aku libatin mamah. Jadinya kan kaya gini”. Dan setelah Lila bercerita sambil menangis aku juga ikut merasakan jiak aku ada di posisi Lila. Aku terharu dengan cerita Lila saat debat dengan Ibu Ike karena menurutku Lila anak baik dan dia punya maksud bawa hp ke sekolah. Tidak seperti siswa-siswi yang bawa hp cuma buat smsan sama pacarnya dan digunain yang engga bener. Ibu Ike sudah biasa menangani siswa-siswi yang bermasalah karena hp. Dan hp yang dirazia, di dalamnya banyak hal yang mengejutkan. Seperti sms-sms yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang murid. Foto–foto yang tidak sopan. Itulah mengapa ibu Ike tetap bersikeras menahan hp Lila. Meskipun bersih dari hal apapun.
Semoga murid yang bawa hp dengan alasan yang jelas dan jujur bisa berhati-hati. Dan gunakanlah hp jika perlu. Jika tidak perlu jangan digunakan. Nah, ingat buat teman-teman, kita bawa hp bukan buat untuk hal yang tidak diperlukan. Karena setiap sekolah pasti ada peraturan ‘tidak boleh membawa hp’. Jadi jika tidak diperlukan tidak usah membawa hp. Terus pasti ada yang bilang “nanti engga smsan sama pacar dong” nah pendapat saya, pacaran itu privasi setiap orang. Kita harus bisa meluangkan waktu. Coba fikir kalau di razia trus ketahaun sms-sms yang engga bener, kan gawat dan bisa di Drop Out beberapa hari dan namanya dicemar burukkan. Udah di DO, namanya dicemar burukkan, hp nya di tahan 6 bulan pula. Mending yang kaya gitu engga usah bawa hp.
Nah… ini contoh untuk murid yang selalu membawa handphone ke sekolah. Sekarang logika aja deh, peraturan sekolah telah kita baca atau kita ketahui sebelum masuk menjadi murid sekolah yang kita inginkan. Tapi nyatanya engga kita kerjakan, mungkin karena ada alasan tertentu. Murid yang baik ada alasan yang baik pula. Nah engga tahu tuh murid yang nakal. Bukannya menilai murid nakal itu buruk tapi biasanya seperti itu. Kita punya alasan jelas mengapa bawa hp.
Saya seorang murid, saya tahu alasan kenapa bawa hp karena untuk memberitahu kepada orangtua keadaan kita. Sekolah saya itu mendisiplinkan muridnya untuk masuk pada jam 06.45 dan pulang jam 04.00. Kadang-kadang kita pulang malam, alasannya mengerjakan tugas kelompok atau mencari bahan materi yang kita butuhkan. Nah itu mengapa kita bawa hp.
Cerpen Karangan: Nurannisa Widiawati
Blog: nisawidia4ever.blogspot.com
Blog: nisawidia4ever.blogspot.com
Sekolah Itu Bisa Tambah, Kurang, Kali dan Bagi Bu
“Pagiku cerahku matahari bersinar, kugendong tas merahku di pundak. Muridku tersayang muridku tercinta, ku disini ingin menjadikanmu orang yang hebat suatu saat nanti”, nanananaa… (bermaksud sedikit merubah lirik lagu, tapi berharap penciptanya tidak menuntut saya. Heheheee) itulah lirik lagu yang selalu membuat saya bersemangat setiap hari.
19 April 2012
Siang ini saya bersiap memasuki kelas VIIA untuk mengajar Bahasa Indonesia. Karena selama 2 hari ada kegiatan KKG guru SD sampai sore hari dan kegiatan tersebut memaksa untuk menggunakan ruang kelas V dan VI (multifungsi, siang hari menjadi ruang kelas SMP, untuk kelas VIIA dan VIIB).
Siang ini saya bersiap memasuki kelas VIIA untuk mengajar Bahasa Indonesia. Karena selama 2 hari ada kegiatan KKG guru SD sampai sore hari dan kegiatan tersebut memaksa untuk menggunakan ruang kelas V dan VI (multifungsi, siang hari menjadi ruang kelas SMP, untuk kelas VIIA dan VIIB).
Pada hari ini mau tidak mau terpaksa kami menggunakan ruang kelas IV SD (karena satu atap dengan SMP) yang bangunannya sungguh begitu membuat hati saya menangis teriris. Bangunan dengan ukuran 4 x 5 meter ini mungkin sudah sangat tidak layak dijadikan ruang kelas. Bambu-bambu yang dicacah disusun mengelilingi ruang kelas menjadi pengganti sebagai tembok, meja dan kursi terlihat seadanya. Mungkin ketika duduk, maka mereka semua akan berdesak-desakan seperti penumpang di Bus kelas ekonomi yang sangat sesak, panas dan pengap. Apalagi bau anak-anak sungguh harum seperti bau parfum Paris Hilton (minyak bibit; hanya istilah saja biar sedikit keren. Hehee) yang menyengat membuat saya sedikit pusing (parfum: bau keringat karena bau badan. Maklum, tak mungkin mereka pakai parfum kan?), lantainya pun masih tanah, jendela yang lubangnya begitu besar tak ada tutupnya, dan bahkan nyaris tak ada pintu di ruang kelas ini. Ya Tuhan, tapi anak-anak ini bahagia semua. Entah apakah saya mampu bertahan hidup tinggal disini. Menerima ke-apa-adaan dan ke-apa-adanya segala sesuatu yang sulit diperoleh. Uang saja mereka tak punya, bagaimana mau memprotes dan menuntut fasilitas hidup di desa terpencil ini.
Bagi masyarakat disini, makan tiga kali sehari merupakan hal istimewa untuk setiap keluarga di Poka dan Redong, 2 desa yang dekat dengan Rangkang Kalo. Itu pun dengan makan sayur yang sangat standar, sondaing, labu ndesi, kacang merah (lebih kerennya kacang Azuki: setelah semalam saya browser di internet tentang kacang Azuki yang mirip seperti kacang merah hasil kebun masyarakat Poka & Redong). Ternyata hasil penelitian kacang Azuki (ada di Jepang) mengandung protein yang sangat tinggi. Waaww…”
Semoga saja makanan-makanan itu mampu menjadikan semua murid-murid saya pandai, pintar, dan tentunya sehat. Menjadi orang-orang hebat yang suatu saat bisa duduk di kursi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat menggantikan menteri-menteri, bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga (PPO) Ruteng, Manggarai, menjadi guru seperti cita-cita mereka, menjadi Dokter yang profesional, atau bahkan presiden atau mungkin ilmuwan. Karena hampir semua makanan yang mereka makan mengandung zat gizi untuk kesehatan tubuh.
Ah, betapa tingginya angan dan pengharapan saya kepada mereka. Meskipun ini semua sangat mustahil untuk mereka dan untuk saya, tapi inilah doa saya dalam hati…
Semoga saja makanan-makanan itu mampu menjadikan semua murid-murid saya pandai, pintar, dan tentunya sehat. Menjadi orang-orang hebat yang suatu saat bisa duduk di kursi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat menggantikan menteri-menteri, bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga (PPO) Ruteng, Manggarai, menjadi guru seperti cita-cita mereka, menjadi Dokter yang profesional, atau bahkan presiden atau mungkin ilmuwan. Karena hampir semua makanan yang mereka makan mengandung zat gizi untuk kesehatan tubuh.
Ah, betapa tingginya angan dan pengharapan saya kepada mereka. Meskipun ini semua sangat mustahil untuk mereka dan untuk saya, tapi inilah doa saya dalam hati…
Ruang kelas IV SD Satap Rangkang Kalo
“Selamat siang anak-anak, masih semangat kan siang hari ini?”, sapa saya kepada seluruh siswa kelas VIIA SMP Satap Rangkang Kalo. “Masih semangat buuuuu…”, jawab mereka bersemangat. “Bagus anak-anak, semangat kalian itulah yang membuat saya tak pernah berhenti menebarkan senyum bahagia setiap memasuki ruang kelas”, kata saya dalam hati.
“Baik semuanya, sebelum kita memulai pelajaran, Ibu ada sedikit permainan untuk kalian. Tapi ingat harus konsentrasi pada setiap pertanyaan yang Ibu berikan. Dalam satu kelas bagilah menjadi dua kelompok, berarti ada sekitar 12 anak. Setiap pertanyaan yang Ibu berikan harus dijawab dan ditulis di depan papan tulis. Berilah kesempatan kepada setiap anggota kelompok untuk dapat menjawab. Jangan gaduh, jangan ribut, dan kita bermain secara jujur, cepat, dan tepat. Mengerti semuanya?, ucap saya kepada mereka. “Mengerti bu, ayo kita mulai bu”, kata mereka serentak.
“Selamat siang anak-anak, masih semangat kan siang hari ini?”, sapa saya kepada seluruh siswa kelas VIIA SMP Satap Rangkang Kalo. “Masih semangat buuuuu…”, jawab mereka bersemangat. “Bagus anak-anak, semangat kalian itulah yang membuat saya tak pernah berhenti menebarkan senyum bahagia setiap memasuki ruang kelas”, kata saya dalam hati.
“Baik semuanya, sebelum kita memulai pelajaran, Ibu ada sedikit permainan untuk kalian. Tapi ingat harus konsentrasi pada setiap pertanyaan yang Ibu berikan. Dalam satu kelas bagilah menjadi dua kelompok, berarti ada sekitar 12 anak. Setiap pertanyaan yang Ibu berikan harus dijawab dan ditulis di depan papan tulis. Berilah kesempatan kepada setiap anggota kelompok untuk dapat menjawab. Jangan gaduh, jangan ribut, dan kita bermain secara jujur, cepat, dan tepat. Mengerti semuanya?, ucap saya kepada mereka. “Mengerti bu, ayo kita mulai bu”, kata mereka serentak.
“Baik anak-anak, silahkan masing-masing kelompok berbaris rapi menghadap ke papan tulis. Berdiri yang rapi dan dengarkan setiap pertanyaan yang Ibu lontarkan. Untuk kelompok matahari dan kelompok anggrek siap?, kata saya penuh semangat seperti sedang lomba cerdas cermat tingkat Nasional. “Siaaappp Buuuuu…”, jawab mereka dengan sangat antusias.
Pertanyaan pertama, “Siapakah presiden pertama negara Indonesia?”, soal pertama saya untuk mereka. Lalu masing-masing anggota kelompok maju ke depan dan menulis jawaban dari soal pertama saya dengan jawaban Ir. Soekarno. Bagus, langkah awal berjalan lancar dan mereka menjawab dengan benar. Lanjut pertanyaan kedua, “Apa lambang negara Indonesia?”, “Burung Garuda bu”, jawab mereka cepat. Bagus mereka paham, meskipun saya menyadari tak ada replika burung garuda di ruang kelas ataupun kantor guru SD dan SMP tapi setidaknya mereka mengerti lambang negara Indonesia. “Ok, kalian benar. Selanjutnya soal ketiga, sebutkan air yang mempunyai rasa asin?”. Seketika Fani dari kelompok anggrek lari ke depan papan tulis menulis jawaban ‘air laut’. “Good”, jawab saya dengan senyum mengembang. Yang lebih membuat lucu adalah Yulin dari kelompok matahari menjawab ‘air garam’. Lalu saya bertanya kepada dia, “Yulin kok jawab air garam?”. “Iya Bu, kan saya punya garam di rumah. Kalau dikasih air pasti rasanya asin kan bu?”, celoteh Yulin murid pintar kesayangan saya di kelas VIIA. Hahahahaaa benar juga ya jawaban Yulin. Jawaban ini tidak saya salahkan, justru dengan bangga saya melemparkan senyuman untuknya. “Yulin pintar”, kata saya dalam hati.
Suasana kelas semakin semangat dan panas membara, sepanas ruang kelas dan cuaca siang hari ini. “Masih semangat?”, “masih bu, ayo lanjut soal lagi”, jawaban antusias mereka menambah semangat saya. Baik, sekarang kita lanjut ke soal matematika. Berapakah (20 – 14 + 11 + 3) : 2. Diluar kendali saya semuanya maju ke depan papan tulis dan berlomba-lomba menulis jawaban mereka dengan jawaban 10. Brilian, bagus sekali, hebat, genius. Meskipun hanya soal tambah, kurang, dan bagi yang saya buat sangat sederhana, mereka cepat berpikir. Ini bukan soal mudah atau sulit, tapi bagaimana mareka mampu memahami soal. “Hebat, jawaban kalian benar dan tepat”, puji saya kepada mereka. Tiba-tiba ada yang berceletuk, “Iya Bu, yang penting bagi kita sekolah itu bisa belajar tambah-kurang-kali-bagi. Supaya kalau kita pergi merantau bisa dapat ijazah bu”, jawab Ari. Astagfirullah, jawaban yang sangat menusuk jantung saya. Tiba-tiba saya terdiam tak bisa berkata apa-apa dan berusaha mencerna pelan-pelan jawaban Ari. Masuk dari lubang telinga, tulang-tulang pendengaran, lalu ke rumah siput, dan diteruskan oleh saraf-saraf yang kemudian diproses oleh otak. Kemudian tenggg…!!! Memang benar jawaban Ari, jawaban sederhana dan lugu. Bagi mereka sekolah itu yang penting bisa belajar tambah-kurang-kali-bagi. Sesuatu yang benar-benar membuat saya terenyuh. Anak-anak, jadilah orang yang hebat suatu saat nanti. Ibu tidak akan pernah menenggelamkan angan dan cita-cita kalian, justru ibu akan selalu menyertai setiap langkah kalian.
“Wah kalian memang hebat, ibu seperti sedang berada di depan para ilmuwan genuis. Seperti Albert Einstein, seorang penemu rumus relativitas E= m.c2 yang menderita disleksia, tak bisa membaca dan menulis. Tapi dengan kesederhanaan, keluguan, dan kegeniusannya Albert mampu menjadi penemu yang sangat luar biasa. Suatu saat nanti Ari bisa menjadi seorang Albert Einstein”, puji saya pada Ari.
“Baik, sekarang kita lanjutkan 6 pertanyaan lagi ya. Saat ini ibu tetapkan kalian sebagai para ilmuwan genius kelas VIIA yang terbaik. Maka dari itu saya minta temukan dan berikan jawaban terbaik kalian untuk Indonesia. Setuju???”, pinta saya pada mereka.
“Setuju Bu”, jawab mereka.
“Wah kalian memang hebat, ibu seperti sedang berada di depan para ilmuwan genuis. Seperti Albert Einstein, seorang penemu rumus relativitas E= m.c2 yang menderita disleksia, tak bisa membaca dan menulis. Tapi dengan kesederhanaan, keluguan, dan kegeniusannya Albert mampu menjadi penemu yang sangat luar biasa. Suatu saat nanti Ari bisa menjadi seorang Albert Einstein”, puji saya pada Ari.
“Baik, sekarang kita lanjutkan 6 pertanyaan lagi ya. Saat ini ibu tetapkan kalian sebagai para ilmuwan genius kelas VIIA yang terbaik. Maka dari itu saya minta temukan dan berikan jawaban terbaik kalian untuk Indonesia. Setuju???”, pinta saya pada mereka.
“Setuju Bu”, jawab mereka.
Hari ini pun menjadi awal kehidupan terbaik untuk anak-anak Rangkang Kalo. Dunia imajinasi mereka akan saya penuhi dengan dunia pendidikan, pengetahuan, dunia luar, dan seisi alam semesta untuk berfantasi sekehendak hati mereka.
Bukan kesengsaraan, keluhan, ataupun penderitaan yang saya ceritakan disini. Tetapi justru kegeniusan para ilmuwan anak-anak Rangkang Kalo lah yang menjadikan kehebatan kisah cerita ini sehingga saya berharap dapat menumbuhkan secercah harapan bagi masa depan mereka kelak.
Bukan kesengsaraan, keluhan, ataupun penderitaan yang saya ceritakan disini. Tetapi justru kegeniusan para ilmuwan anak-anak Rangkang Kalo lah yang menjadikan kehebatan kisah cerita ini sehingga saya berharap dapat menumbuhkan secercah harapan bagi masa depan mereka kelak.
“Ikuti apa keinginan anak-anak, jangan menjadikan anak sebagai seorang tertuduh ketika sedikit menyimpang. Bermain dan nikmatilah dunia mereka, dan jangan paksakan mereka harus mengerti dengan dunia kita. Yang mereka inginkan adalah perhatian dan senyuman sebagai seorang sahabat”.
“Anak-anakku, dunia sangat terbuka lebar untuk segala kemungkinan. Kalian bebas menjadi apapun yang kalian inginkan. Proyeksi hidup kalian saat ini dan ke depan sepenuhnya berada dalam genggaman tangan kalian sendiri. Maka dari itu, selalu berkeyakinanlah bahwa semua akan baik-baik saja”
(Harapan saya untuk anak-anak Negeri: Poka, 24 April 2012)
“Anak-anakku, dunia sangat terbuka lebar untuk segala kemungkinan. Kalian bebas menjadi apapun yang kalian inginkan. Proyeksi hidup kalian saat ini dan ke depan sepenuhnya berada dalam genggaman tangan kalian sendiri. Maka dari itu, selalu berkeyakinanlah bahwa semua akan baik-baik saja”
(Harapan saya untuk anak-anak Negeri: Poka, 24 April 2012)
Cerpen Karangan: Dewi Sri Warni
Blog: http://dewisriwarni.blogspot.com/
Blog: http://dewisriwarni.blogspot.com/
Pelukan Senja Terakhir
Jaman kamu itu enak nduk, tidak seperti jaman eyang dulu. Tapi sayang, remaja jaman sekarang itu sering menyalahgunakan kemajuan teknologi.” cerita eyangku yang sedari tadi menemaniku menyelesaikan skripsiku, bersama keindahan senja sore ini. Aku hanya tersenyum melihat eyangku terpukau melihat kelincahan jemariku yang menari nari di atas keyboard laptopku.
“Nduk, kamu jangan terlalu larut dalam kerjaan. Sepertinya kamu sudah lelah, sebentar lagi adzan magrib.” kata eyang menasehatiku, aku tersenyum melihat sosok wanita tua yang sangat berarti dalam hidupku.
“Iya eyang, ini sudah selesai kok, Zakiya beresin dulu ya, terus kita sholat magrib bersama.” jawabku seraya membereskan buku-buku ku serta mematikan laptopku.
“Eyang masuk dulu.” kata eyang lalu masuk ke rumah. Aku segera menyusul eyang.
“Nduk, kamu jangan terlalu larut dalam kerjaan. Sepertinya kamu sudah lelah, sebentar lagi adzan magrib.” kata eyang menasehatiku, aku tersenyum melihat sosok wanita tua yang sangat berarti dalam hidupku.
“Iya eyang, ini sudah selesai kok, Zakiya beresin dulu ya, terus kita sholat magrib bersama.” jawabku seraya membereskan buku-buku ku serta mematikan laptopku.
“Eyang masuk dulu.” kata eyang lalu masuk ke rumah. Aku segera menyusul eyang.
Selepas isya aku masuk ke kamar. Seperti biasanya, sebelum tidur aku melihat bintang terlebih dahulu.
“Ayah, bunda, Zakiya kangen. Ayah bunda tunggu Zakiya di surga ya.” kataku menatap dua bintang yang paling bersinar, yang ku anggap sebagai ayah dan bunda yang menemaniku tiap malam.
“Ayah, bunda, Zakiya kangen. Ayah bunda tunggu Zakiya di surga ya.” kataku menatap dua bintang yang paling bersinar, yang ku anggap sebagai ayah dan bunda yang menemaniku tiap malam.
Aku memang anak yatim piatu, ayahku meninggal ketika aku berusia 6 bulan, sedangkan bunda meninggal ketika aku berusia 2 tahun. Satu-satunya anggota keluarga yang aku miliki hanyalah eyang. Ayah dan bunda adalah anak semata wayang, begitu pula aku. Aku hidup berdua dengan eyangku. Sosok yang bertahan hidup karena tak tega melihatku sebatang kara. Tak terasa air mataku jatuh membasahi kerudungku. Rayuan mimpi indah telah berhasil meninabobokanku, hingga aku terlelap dalam tidurku.
Seperti biasanya aku bangun pukul tiga dini hari, untuk melaksanakan sholat malam, lalu aku berdzikir sambil menunggu adzan subuh tiba.
Senja itu aku duduk di halaman rumah bersama eyang untuk menikmati senja bersama secangkir teh seperti biasanya.
“Senja kali ini begitu indah ya nduk.” guman eyang menatap ke arah langit.
“Iya eyang. Indah sekali, ingin rasanya setiap hari merasakan keagungan-Nya bersama eyang” kataku seraya menyandarkan kepalaku di bahu eyang.
“Iya nduk” memebelai lembut kepalaku yang dibalut kerudung warna unggu kesukaanku.
“Senja ini akan terasa lebih indah lagi jika Ayah dan Bunda ada di sini bersama kita.” kataku berandai-andai.
“Sudah nduk, jangan mengeluh seperti itu. Suatu saat kamu akan berkumpul lagi dengan ayah bundamu nduk” Eyang menenagkanku seraya memelik erat tubuhku. Pelukan yang hanya kuperoleh darinya.
“Iya eyang. Oh iya, eyang besok bisa datang ke acara wisuda S2 Zakiya kan?” tanyaku menatap eyang yang sudah tampak jelas kerut-kerut di wajahnya, namun senyuman selalu menghiasi wajahnya.
“Iya nduk, eyang pasti datang.” kata eyang tersenyum
“Senja kali ini begitu indah ya nduk.” guman eyang menatap ke arah langit.
“Iya eyang. Indah sekali, ingin rasanya setiap hari merasakan keagungan-Nya bersama eyang” kataku seraya menyandarkan kepalaku di bahu eyang.
“Iya nduk” memebelai lembut kepalaku yang dibalut kerudung warna unggu kesukaanku.
“Senja ini akan terasa lebih indah lagi jika Ayah dan Bunda ada di sini bersama kita.” kataku berandai-andai.
“Sudah nduk, jangan mengeluh seperti itu. Suatu saat kamu akan berkumpul lagi dengan ayah bundamu nduk” Eyang menenagkanku seraya memelik erat tubuhku. Pelukan yang hanya kuperoleh darinya.
“Iya eyang. Oh iya, eyang besok bisa datang ke acara wisuda S2 Zakiya kan?” tanyaku menatap eyang yang sudah tampak jelas kerut-kerut di wajahnya, namun senyuman selalu menghiasi wajahnya.
“Iya nduk, eyang pasti datang.” kata eyang tersenyum
—
“Selamat ya kiya.” ucap teman-temanku menyalamiku. Alhamdulillah aku dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik dengan IP ku yang mendekati sempurna.
“Selamat ya nduk” kata eyang senja itu.
“Iya eyang, ini semua berkat doa dan dukungan eyang.”
“Kamu jangan pernah lupa ya nduk segala nikmat itu karena Allah, selalu bersyukur.” kata eyang menasehatiku.
“Iya eyang,” kataku tersenyum
“Kamu sekarang sudah dewasa nduk, semakin cantik. Eyang bangga punya cucu seperti kamu. Eyang sudah ikhlas jika eyang nanti harus meninggalkanmu sendiri. Eyang rasa kamu sudah mampu menjaga diri.” kata-kata eyang membuatku menangis
“Eyang, kok eyang berkata seperti itu, kiya masih butuh eyang. Apa eyang tidak ingin melihat anakku nanti?” tanyaku penuh isak tangis memeluk erat tubuh eyang yang semakin lemah.
“Eyang maunya begitu nduk, kalau perlu eyang akan selalu ada sampai kiya tiada.” eyang mengelus kepalaku yang sedari tadi kusandarkan di bahu eyang. kurasakan belaian tersebut makin lama makin melemah, suasanapun sunyi.
“Eyang?” panggilku pada eyang, mendengar eyang tiada menjawab aku segera bangkit dari sandaran bahu eyang. Melihat mata eyang terpejam aku fikir eyang tertidur, namun wajah eyang terlihat putih pucat dan tidak bernafas.
“Eyang…” teriakku histeris lalu tak sadarkan diri.
“Selamat ya nduk” kata eyang senja itu.
“Iya eyang, ini semua berkat doa dan dukungan eyang.”
“Kamu jangan pernah lupa ya nduk segala nikmat itu karena Allah, selalu bersyukur.” kata eyang menasehatiku.
“Iya eyang,” kataku tersenyum
“Kamu sekarang sudah dewasa nduk, semakin cantik. Eyang bangga punya cucu seperti kamu. Eyang sudah ikhlas jika eyang nanti harus meninggalkanmu sendiri. Eyang rasa kamu sudah mampu menjaga diri.” kata-kata eyang membuatku menangis
“Eyang, kok eyang berkata seperti itu, kiya masih butuh eyang. Apa eyang tidak ingin melihat anakku nanti?” tanyaku penuh isak tangis memeluk erat tubuh eyang yang semakin lemah.
“Eyang maunya begitu nduk, kalau perlu eyang akan selalu ada sampai kiya tiada.” eyang mengelus kepalaku yang sedari tadi kusandarkan di bahu eyang. kurasakan belaian tersebut makin lama makin melemah, suasanapun sunyi.
“Eyang?” panggilku pada eyang, mendengar eyang tiada menjawab aku segera bangkit dari sandaran bahu eyang. Melihat mata eyang terpejam aku fikir eyang tertidur, namun wajah eyang terlihat putih pucat dan tidak bernafas.
“Eyang…” teriakku histeris lalu tak sadarkan diri.
END
Cerpen Karangan: Via Aulia
Facebook: Vya Williams
Facebook: Vya Williams
Bukan Sampah Biasa
Setelah pengalaman yang mengusikku selama 365 hari itu berakhir, aku mulai berani menunjukkan taringku kepada semua orang: kepada mereka yang mengejekku, menggunakanku sebagai bahan ejekan, hinaan dan fitnahan, dan kepada mereka yang meragukan kemampuanku sebagai pelajar berseragam merah dan putih. Usiaku masih sepuluh tahun saat itu, tetapi aku merasa bahwa pengalamanku disakiti orang lain bisa menjadi pelajaran bagus untukku, dan untuk semua orang yang mengalami hal seperti aku.
Beberapa bulan setelah aku menikmati kelegaan hidup, aku hampir kena masalah lagi setelah berbohong kepada guru. Masalahnya sepele, saat sedang membersihkan kelas, guru itu meminta murid-muridnya untuk membuang sampah yang ada di kolong meja, di tempat sampah. Aku membuang serpihan-serpihan kertas yang ada di kolong mejaku, entah punya siapa (kurasa itu milikku, tetapi aku tidak sungguh-sungguh ingat), di luar jendela, yang langsung berhubungan ke kolam renang TK sekolahku. Sekolahku berbentuk yayasan, saat itu ada dua jenjang di yayasan, TK dan SD.
Entah kenapa mata si guru sedang mengarah padaku dan dia, “Ayu, kamu buang sampah ke mana?” teriaknya. Aku, si anak kecil yang mudah terkejut, terperanjat mendengar teriakannya. Kertas-kertas itu sudah terlanjur meluncur ke bawah, aku bahkan tak bisa memastikan kembali apakah kertas-kertas itu sudah di sana, mungkin mereka mau berubah pikiran dan terbang ke atas untuk menyelamatkan kulit-kulitku yang mulai terasa dingin dan kasar, akibat dari keterkejutan. Ibarat kucing, rambut-rambut kulitku sudah meremang.
Aku gelagapan untuk beberapa saat sampai dia berteriak untuk yang kedua kalinya dan memintaku mengambil sampah sobekan itu. Aku berlari ke luar kelas—seakan-akan aku benar-benar ingin mengambilnya. Dikuasai oleh rasa takut, aku melangkah perlahan, sangat perlahan menuju kolam renang TK sampai-sampai aku tidak bisa merasakan kaki dan keringat dinginku. Perkataannya yang tajam dan nadanya yang sinis yang memaksaku ke sini. Jika aku menuruti egoku, pastilah aku akan bertahan di kelas dan membangkangnya dengan tidak mengambil sobekan-sobekan kertas itu dan turut pulang bersama teman-teman, menjadi anak nakal dalam sehari, yang berimbas cap selama berhari-hari, mungkin sampai aku lulus SD.
Kakiku masih tidak bergerak untuk beberapa saat. Aku hanya mondar-mandir di sekitar lorong penghubung antara TK dengan SD. Pagar menuju TK terbuka, kelasnya sudah dibubarkan. Memang, sih sudah tidak ada orang di sana. Namun, meskipun tidak ada yang memperhatikanku mengambil sobekan-sobekan kertas itu, aku merasa malu seakan-kan ada yang melihat, dan seakan-akan tindakanku ini sangat fatal dan berpengaruh terhadap karier akademisku di SD. Tidak juga, kan? Aku mondar-mandir selama lima menit, sampai-sampai petugas kebersihan sekolah memergoki tindakan mencurigakanku dan bertanya aku mau ke mana. “Eeeh, mau ke toilet,” kilahku. Seandainya aku menyalami tangan petugas itu seperti yang biasa kulakukan terhadap guru-guruku, pastilah dia akan mengira aku sedang menahan buang air besar.
Akhirnya, setelah mengucapkan bismillah sebanyak tiga kali dan menghirup dan membuang napas sebanyak tiga kali juga, sembari berharap semoga tidak ada guru atau siapapun memergokiku lagi dan memaksaku untuk menjelaskan sebab aku berada di sana saat jam pulang sekolah, aku melangkah dengan mantap —dan setengah bergetar— menuju kolam renang TK. Aku sedikit mengintip ke arah jendela kelasku sebelum aku benar-benar masuk. Beberapa temanku menengok ke arahku dan mengisyaratkan supaya aku cepat membuang sampah dan lekas pulang. Tas sudah disandangkan di punggung masing-masing dan mereka berdoa pulang, tanpa menungguku.
Entah kenapa, gerakanku kupercepat saat memungut sobekan-sobekan itu. Langsung kubuang ke tempat sampah dan… lari. Namun, lariku pun kuperlambat tiba-tiba ketika aku menyadari seluruh kelas akan melihat ke arahku dan berpikiran jelek terhadapku. “Makanya, jangan buang sampah sembarangan!” “Ih, nanti dia bakal dimarahi Pak Jainal lho!” “Bagaimana rasanya dimarahi Pak Jainal? Haha!” Aku kembali menghentikan langkahku di tempat yang sama, di pagar penghubung TK dan SD. Menunggu sampai kelas kosong lalu aku bisa ke kelas dengan perasaan aman. Sungguh melelahkan dan membosankan, aku harus berkali-kali memastikan kalau teman-temanku sudah ke luar kelas semua dengan melongok dari jarak jauh.
Setelah yakin kondisi sudah aman, aku masuk ke kelas. Takut-takut kupandang wajah wali kelasku, Pak Jainal. Atau Zainal. Wah, aku lupa ejaannya. Beliau selalu memanggil dirinya dengan huruf J, bisa saja namanya Zainal tetapi ejaannya dipermudah dengan huruf J. Seperti ketika seseorang bernama Rosyid, untuk mempermudah panggilannya, orang-orang malah memanggilnya Rosid, yang justru akan terdengar seperti Rosit.
“Siapkan tasmu, kamu harus buru-buru pulang,” kata Pak Jainal pelan. Beliau sedang merapikan mejanya juga, bersiap kembali ke ruang gurunya. Percaya atau tidak, meskipun tidak meneriakiku seperti tadi, badanku masih terasa gemetaran. Saat aku merapikan buku-bukuku, aku bisa merasakan ujung kepala hingga ujung kakiku kaku dan dingin seketika, gerakanku tidak beraturan. Banyak barang-barangku yang harus kurapikan dua kali karena berjatuhan dari tanganku.
Sebelum aku pulang, “Sini dulu.” Aku sudah tahu ini akan terjadi. Aku membayangkan diriku dimarahi sebelum pulang sekolah. Saat aku sudah menyandang tas punggungku, tiba-tiba aku merasa apa yang kupikirkan di dalam otakku akan menjadi kenyataan. Aku dimarahi selama setengah jam, keringat dingin bercucuran di seluruh tubuh, aku memainkan jari-jariku, dan aku berdoa dalam hati semoga Mama menjemputku dan membawaku pulang. Sebelumnya, beliau akan menunduk meminta maaf ala orang Jepang dan berjanji putrinya yang bermasalah ini tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Namun, aku salah. Sangat salah. Justru, momen aku berhadapan dengan Pak Jainal, duduk di depan wajahnya, dan tidak berani menatap matanya inilah yang mengubah hidupku selamanya.
“Mengapa kamu berbohong?”
Tatapan matanya jelas menyiratkan bahwa beliau —kesampingkan amarahnya yang tidak terbaca— kecewa terhadapku. Beliau kecewa terhadap perilakuku yang tidak jujur hari ini. “Maaf, Pak…”
“Tapi, kenapa?” tegasnya lagi. Aku tahu kali ini aku harus jujur. Sudah tidak apa-apa, kok. Teman-teman sudah pulang semua, apapun yang akan kukatakan tidak akan berpengaruh pada siapapun, kecuali padaku dan Pak Jainal. Dia akan menjadikan hal ini sebagai catatan hariannya, sementara aku akan menjadikannya sebagai pengalaman yang sekadar lewat saja.
Aku semakin tidak bisa menatapnya. Wajahnya yang tidak menyeramkan, tidak menakutiku. Hanya saja, wajahnya yang sayu dan selalu terlihat letih, dilengkapi dengan matanya yang berkantung dan hampir tanpa ekspresi, ditambah peristiwa tadi mengisyaratkan padaku bahwa dia tidak sedang main-main sekarang ini. Beliau tidak sedang berusaha menghukumku, beliau…
“Saya… saya… cuma takut dimarahi Bapak.”
“Tidak bisa dijadikan alasan. Kamu tahu? Kamu harus menghadapi risiko akibat perbuatanmu barusan. Bapak marah karena kamu membuang sampah sembarangan. Bapak marah karena kamu berusaha mengelak kalau kamu tidak sedang melakukan apa-apa, padahal Bapak jelas-jelas melihatmu buang sampah di luar jendela. Seandainya kamu jujur, Bapak tidak akan berteriak seperti tadi. Mungkin saya akan tetap marah, tetapi saya tidak perlu meneriaki kamu.”
Aku terdiam, mendengarkan. Aku hampir menangis. Bibirku bergetar, tetapi kutahan. Kepalaku semakin tertunduk. Tidak pernah ada orang yang berhasil menegurku sedalam ini, tidak orangtuaku, juga para penggencetku dahulu. Akhirnya, aku menangis juga, nyaris tanpa suara. Pertahananku runtuh, aku tetap tidak bisa menatapnya. Aku terlalu takut. Sangat takut.
“Maaf, Pak. Saya… saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya tidak akan berbohong dan buang sampah sembarangan lagi.” Ya, janji anak SD kuno semacam itulah yang kulontarkan padanya.
Beliau menepuk punggung tanganku. “Sudah, sudah. Kali ini, tidak apa-apa. Bapak kecewa sama kamu untuk hari ini, tetapi Bapak juga bangga sama kamu karena kamu berani menghadapi risiko yang kamu timbulkan,” katanya. Ekspresinya selalu kosong. Beliau tidak tersenyum, tetapi aku merasakan di saat yang sama, beliau sudah tidak semarah tadi.
“Sekarang, kamu boleh pulang. Hati-hati di jalan, ya, dan…” dia berhenti sejenak, kemudian berkata lagi, “jangan terlalu masukkan ke hatimu. Maafkan Bapak, ya kalau terlalu keras menegurmu.”
Tidak, Bapak salah. Sangat salah jika beliau memintaku untuk tidak memasukkannya ke hati dan pikiranku. Peristiwa itu terjadi sudah lama sekali, sekitar tahun 2005 atau 2006. Tepatnya, aku tidak ingat. Saat itu, aku duduk di kelas 5 SD dengan wali kelas bernama Pak Jainal. Suatu kali, aku ditegur dengan keras pada awalnya olehnya karena aku sempat mengelak telah membuang sampah sembarangan. Setelah sesi menegur itu selesai, beliau memintaku untuk tidak memasukkan hal itu ke hati anak kecilku karena takut aku tersinggung, yang terburuk, beliau takut aku membencinya.
Aku tetap mengingat peristiwa itu sepanjang hidupku, aku tidak pernah lupa. Aku menyimpannya dengan baik di hati dan pikiranku, malah jika bisa, mungkin aku sudah memasukkan peristiwa itu ke dalam sebuah arsip khusus, yang kuberi label: peristiwa berharga yang mengubahku. Dengan mengingatnya, bukan sakit hati atau tersinggung yang muncul, aku tidak pernah merasa marah. Sebaliknya, aku sangat berterima kasih. Setiap kali aku mengingatnya, justru aku selalu merasa malu, di saat yang sama, aku juga selalu merasa bersyukur. Tuhan berikan sebuah peringatan halus melalui kejadian kecil yang bisa dibilang hampir tidak berarti itu, mengingat betapa lamanya peristiwa itu telah berlalu.
Entah kapan pastinya, yang jelas, setelah Pak Jainal menegurku, aku tidak berani lagi membuang sampah sembarangan. Di jalan, di lantai kantin, kelas, atau rumahku sendiri, bahkan tidak di kolong mejaku. Bukan karena aku takut Pak Jainal akan memergokiku lagi, atau guru lain yang akan memergokiku. Aku melakukannya karena kesadaran diriku, ternyata membuang sampah pada tempatnya itu perlu, wajib, harus dilakukan.
Kesadaran itu memang tumbuh setelah peristiwa itu, artinya aku kapok dan aku telah belajar bahwa yang salah itu adalah salah. Sampah sekecil apapun harus kubuang di tempat sampah. Kalau aku tidak menemukan tong sampah atau sejenisnya, aku akan menyimpannya di dalam tasku sampai aku menemukan tempat sampah dan membuangnya. Melihat banjir dan sungai yang terlalu kotor dan padat barang yang seharusnya tidak ada di sana, jalan raya yang penuh bungkus permen, kantung plastik, dan kertas-kertas yang beterbangan di jalan dan bisa membahayakan pengemudi, aku paham mengapa aku sampai dimarahi guruku gara-gara membuang sobekan-sobekan kertas. Mungkin sobekan itu sepele, tetapi jika semua orang membuang sobekan-sobekan bukan pada tempatnya, maka sobekan-sobekan itu akan terkumpul dan menjadi sampah yang menumpuk, merusak pemandangan dan menjadikan sekelilingnya tidak bersih.
Sekarang, aku malah sebal kalau melihat ada sampah di dekatku atau saat temanku membuang sampah di jalan di depan mataku. Sambil marah-marah, aku akan mengambil sampah yang dibuangnya dan menunjukkan di mana seharusnya sampah itu berada. Aku dikenal sebagai orang yang disiplin sampah. Jika ada yang membuang sampah sembarangan dan aku mengambilnya sambil marah-marah, menunjukkan wajah yang tidak menyenangkan dan ngedumel sampai sampah itu dibuang, maka teman atau keluargaku akan berkata, “Tuh, makanya jangan buang sampah di depan dia. Tiru dia, dong!”
Aku tahu, sebenarnya mereka sedang bercanda dan tidak terlalu menanggapiku dengan serius. Aku ingin terus menunjukkan pada semua orang bahwa sampah punya ‘rumah’ sendiri, jika dibuang tidak pada tempatnya, maka akan ada risiko yang harus ditanggung. Banjir, bau tak sedap, tanah longsor… Aku membuang sampah sembarangan dan bersyukur karena risiko yang kutanggung hanyalah berupa teguran kecil, dari sesama manusia yang berbeda umur. Aku tidak mau mengulanginya lagi, dan tidak ingin siapapun mengulanginya lagi, bisa saja bukan hanya manusia yang akan menegur, alam pun suatu saat juga akan menegur dengan cara yang tidak terduga, dan tidak terelakkan.
Aku bersyukur karena teguran halus itu tidak pernah kusepelekan. Ungkapan yang mengatakan, “Kebersihan itu sebagian dari iman” ternyata benar adanya. Dengan mensyukuri kebersihan, aku mensyukuri kehadiran seseorang yang sangat berpengaruh pada diriku. Seseorang yang tidak sadar telah mengubah gaya hidupku selamanya dan membuatku konsisten dengan komitmen menjalankan hidup dengan kebersihan, juga meningkatkan imanku terhadap Yang Maha Kuasa karena tangan-Nya yang Maha Besar menunjukkan kuasa padaku yang memang secara tidak langsung menambah keimananku kepada-Nya.
Aku bersyukur bahwa dari miliaran umat manusia di muka bumi ini, aku salah satu dari sekian banyak orang yang cara pandangnya diubah dengan baik, yang dapat berpengaruh bagi orang banyak. Aku dapat kesempatan untuk belajar lebih menghargai orang lain, dan juga menghargai alam dan lingkungan sekitarku. Dari sekian banyak orang, di usia muda, aku dapat kesempatan untuk memahami lebih cepat bahwa bukan hanya orang lain yang bisa marah atas perilaku kita, alam pun bisa bereaksi jika kita tidak berperilaku sesuai kehendaknya. Dan, meskipun belum kujalani secara utuh, aku masih berusaha untuk tidak mengatakan kebohongan. Sepahit apapun kebenaran, harus kusampaikan. Untuk yang satu ini, aku belum sepenuhnya pulih dari kebiasaan berbohong. Namun, aku tahu, bahwa berbohong memiliki dampak sangat panjang dalam kehidupan. Karena kejujuran berhubungan sangat erat terhadap kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, terutama dari perkataan dan perilaku kita di mata orang lain, juga menjadi bahan pertimbangan Tuhan untuk menggolongkan kita sebagai makhluk yang taat.
Cerpen Karangan: Ayurilda Amalia
Facebook: http://www.ayuritowrite.wordpress.com
Facebook: http://www.ayuritowrite.wordpress.com
Kisah Si Ahmad
Di suatu pedesaan ada seorang anak sebut saja sih akhmad, sehari-harinya dia membantu bapaknya ke sawah. Akhmad masih berumur 17 tahun, tiap hari dia mengabiskan waktunya hanya di sawah dan ditemani oleh seekor kerbau, dan ayah nya. sedangkan temannya sibuk ke sekolah, akhmad tidak melanjutkan sekolah karena orangtuanya tidak mampu membiayai, besar harapan akhmad untuk bisa sekolah lagi, karena cita-cit nya ingin menjadi seorang guru, agar bisa membantu orang yang tak mampu. Akhmad anak pertama dari 3 bersaodara sedangkan adiknya yang dua masih kecil-kecil.
Suatu hari akhmad melewati sekolah SMP, sekolah yang diinginkan oleh ahkmad, dia melihat teman-temannya dengan asik bercanda, dan dia pun termenung sambil (membanyangkan kapan saya bisa masuk ke sekolah itu), tak lama kemudian teman-temannya datang menghampiri dia (akhmad) dan berkata “akhmad kapan kamu sekolah, masa yang lain sekolah kamu jadi penggembala kerbau”, sambil ketawa sih temannya, dengan sedihnya sih ahkmad pergi, dan tak mengihiraukan ocehan temannya, tapi dia masih terbayang oleh ocehan temannya.
Keesokan harinya si akhmad, bertanya pada bapaknya
“pak?.. akhmad, mau sekolah lagi”.
“ekolah dari mana uangnya mad, sedangkan buat makan kita masih susah”
“tapi ahkmad mau sekolah kaya temen-temen”,
“sedangkan adik kamu ajah masih kecil-kecil”.
“iya, tapi akhmad mau sekolah pak, akhmad malu dikatain sama temen-teman kapan sekolah dan Cuma jadi pengembala kerbau”.
“sudah jangan dengerin temen-temen kamu”,
“pokoknya akhmad mau sekolah kaya temen-temen”.
Bapak sontak marah, “kamu susah dibilangin” sambil lempar gelas ke tanah
akhmad serontak pergi meninggalkan rumah
“pak?.. akhmad, mau sekolah lagi”.
“ekolah dari mana uangnya mad, sedangkan buat makan kita masih susah”
“tapi ahkmad mau sekolah kaya temen-temen”,
“sedangkan adik kamu ajah masih kecil-kecil”.
“iya, tapi akhmad mau sekolah pak, akhmad malu dikatain sama temen-teman kapan sekolah dan Cuma jadi pengembala kerbau”.
“sudah jangan dengerin temen-temen kamu”,
“pokoknya akhmad mau sekolah kaya temen-temen”.
Bapak sontak marah, “kamu susah dibilangin” sambil lempar gelas ke tanah
akhmad serontak pergi meninggalkan rumah
Si akhmad mengadu pada temannya si kerbau
“kerbau, apa aku salah, jika aku minta sekolah lagi”
“ngoooooo”
“aku ingin kaya temen-temen bisa sekolah”
“ngooooooooo”
Sambil dia tiduran di atas kerbau, tak terasa dia bangun dan terkejut hari sudah sore, dia ingat harus memberi makan ternaknya.
“kerbau, apa aku salah, jika aku minta sekolah lagi”
“ngoooooo”
“aku ingin kaya temen-temen bisa sekolah”
“ngooooooooo”
Sambil dia tiduran di atas kerbau, tak terasa dia bangun dan terkejut hari sudah sore, dia ingat harus memberi makan ternaknya.
Akhirnya dia pulang dan sesampai di rumah, dia diam-diam masuk rumah, dan memberi makan ternaknya, tiba-tiba bapaknya datang dan sambil ngomong.
“dari mana kamu mad?”,
Akhamd serontak kaget, sambil bilang, “haah, habis dari ladang pak sama si kerbau”.
“sudah sana mandi, terus makan”.
Ahkmad yang tadinya ketakutan. Akhirnya cepat-cepat pergi mandi.
“dari mana kamu mad?”,
Akhamd serontak kaget, sambil bilang, “haah, habis dari ladang pak sama si kerbau”.
“sudah sana mandi, terus makan”.
Ahkmad yang tadinya ketakutan. Akhirnya cepat-cepat pergi mandi.
Malamnya si akhmad di kamar, sambil pegang buku, dia berkata, “ya tuhan kapan saya bisa sekolah lagi tuhan, akhamd mau jadi anak pinter tuhan”, dia menatap langit langit atap rumah yang masih bisa lihat bintang dari kamarnya, tak disengaja bapaknya dengar dan dia langsung ke kamar akhmad sambil dia lihat anaknya, di depan pintu yang terbuka sedikit, dia termenung dengan kesedihan dan kekosongan dalam pikiranya, dan dalam pikirannya “ya tuhan semoga saya bisa menyekolahkan anak saya”.
Cerpen Karangan: Ryan Linkinpark
Facebook: R.pancayahoo.com
Facebook: R.pancayahoo.com
Ramadhan Penuh Ceria
Hay! Kenalkan namaku Zhaza Alya Tumaqarima. Aku punya banyak sahabat diantaranya Riana Ashynta (Ria), Valadiva Nisanty (Diva), Salsa Anjila (Anjila), Disha Fitryani (Icha) dan Ilfia Saumarika (Fia). Mau tau ceritaku bersama sahabatku di bulan ramadhan? Ini dia!
Sore itu aku sedang bermain sepeda bersama Ria. Pada saat itu aku belum kenal dengan Diva Cs. Sahabatku pada saat itu hanya Ria. Kulihat Diva Cs sedang bermain sepeda di komplek RBM. Kulihat mereka berbisik-bisik.
“Eh Ria, kayaknya mereka sedang ngomongin kita” kataku pada Ria. “Zha, kita jangan curiga dulu, mana tau mereka bukan ngomongin kita” kata Ria mengingatkan. “Zha, aku pinjam ya sepedanya” kata Ria padaku. “Iya”.
“Eh Ria, kayaknya mereka sedang ngomongin kita” kataku pada Ria. “Zha, kita jangan curiga dulu, mana tau mereka bukan ngomongin kita” kata Ria mengingatkan. “Zha, aku pinjam ya sepedanya” kata Ria padaku. “Iya”.
Setelah keliling komplek Ria kembali.
“Zha, mereka mau kita bersahabat sama mereka” kata Ria, yang dimaksud mereka adalah Diva Cs. “Kamu mau Ri?” tanyaku. “Aku sih bilang mau, tapi terserah kamu Zha” jawab Ria. “Ya sudah deh, aku juga mau” kataku.
“Zha, mereka mau kita bersahabat sama mereka” kata Ria, yang dimaksud mereka adalah Diva Cs. “Kamu mau Ri?” tanyaku. “Aku sih bilang mau, tapi terserah kamu Zha” jawab Ria. “Ya sudah deh, aku juga mau” kataku.
Seketika Diva Cs menghampiriku dan Ria. “Kak, kakak mau kan sahabat sama kami?” tanya Anjila yang masih kelas 3 SD. “Tentu!” jawabku dan Ria kompak. “Kak, kita main di pohon jemblang yuk!” ajak Diva yang masih kelas 4. “AYO!! Kita balpan sepeda yuk!”. “OKE!! 123.. GO!!”.
Tak terasa kami sudah bermain 2 jam. “Diva, kakak pulang dulu ya! Sebentar lagi kan buka puasa” kataku pamit. “Oke kak, hati-hati ya” kata Diva.
Aku pun lalu mengayuh sepedaku, aku juga menggonceng Ria.
Aku pun lalu mengayuh sepedaku, aku juga menggonceng Ria.
“Ria, rupanya mereka baik ya” kataku pada Ria. “Iya Zha. Cepet dong bawa sepedanya nanti keburu buka puasa” omel Ria. Aku pun membawa sepeda dengan sangaaat kencang, sampai hampir membuat Ria muntah.
Malamnya Ria memanggilku. Ia mengajakku untuk salat tarawih.
Sesampainya di masjid aku melihat ada Diva Cs. “Hay kak!” sapa mereka. “Hy juga!”. Selesai salat tarawih, aku dan Ria menemani mereka pulang. “Oh ya kak! Besok kami mau berenang di rumah Diva yang baru di green residen, kakak ikut gak? Kalau ikut nanti kami panggil” Kata Icha ketika akan masuk rumah. “Kakak ikut, ya udah ya cha, kakak pulang dulu” kataku.
Setelah sahur, aku menuju rumah Ria untuk mengajaknya salat subuh. Aku sampai di mesjid, disitu hanya ada Diva dan beberapa bapak-bapak lainnya. “Lho, yang lain mana?” tanyaku. “Gak datang kak” jawab Diva. Tak terasa adzan telah berkumandang.
Sehabis salat subuh, aku, Ria dan Diva memanggil Anjila, Icha, dan Fia. Setelah semuanya berkumpul kami berjalan-jalan di subuh hari. Ketika matahari akan terbit, kami semua menuju pohon jemblang. Kami memanjat, ketika matahari terbit kami memfoto dengan handphone Ria.
Ketika pukul 08.00 kami pulang ke rumah masing-masing untuk mandi. Lalu berkumpul di pohon jemblang.
“Kak, ayo kita pergi. Kita lewat sawah aja ya. Soalnya kalau lewat jalan raya lama banget nyampe nya” kata Diva. “Okee”.
Kami pun melewati sawah. Kami foto-foto bersama. Tak disangka ada seorang lelaki yang mengamati kami. Karena takut kami berlari hingga Icha terjatuh. Huh! Akhirnya sampai juga. Lalu Diva segera membuka pintu rumahnya. Kami lalu membantu Diva memompa kolam renangnya. Setelah 1 jam menunggu, akhirnya airnya sudah penuh. Kami bermain dengan ceria, sejuknya jika berenang di bulan puasa. Hah? Berenang pas puasa? Bukannya gak boleh? Tapi biarin lah udah terlanjur seru.
Tes.. tes bunyi rintik hujan yang lama-lama semakin deras. Apa yang kami lakukan? Jawabannya kami tetap berenang walaupun hujan. Setelah selesai berenang kami membilas diri. Rupanya hujan belum kunjung berhenti akhirnya kami pun tidak jadi bilas. Kami pulang dengan hujan-hujanan. WAH BENAR-BENAR RAMADHAN YANG PENUH CERIA!!!
Selesai
Cerpen Karangan: Dita Zafira Tarmizi
Yang Terjadi di Lebaran
Pada saat bulan puasa berganti menjadi bulan suci ramadhan. Banyak umat muslim dan muslimat merayakan hari kemenangan dengan suka cita bersama kerabat dan keluarga. Tidak luput makanan dan minuman yang special menemani di hari yang fitri.
“assallammualaikum elin, minal aidin ya” ujar zharudin.
“walaikumsallam zahrudin, ia sama sama mohon maaf lahir batin ya”. “kamu lebaran kemana zah?”
“assallammualaikum elin, minal aidin ya” ujar zharudin.
“walaikumsallam zahrudin, ia sama sama mohon maaf lahir batin ya”. “kamu lebaran kemana zah?”
*Pause
Yang terjadi di hari lebaran
1. Pasti ketika lebaran, ada saja temen yang selalu bilang seperti itu, “KAMU LEBARAN MAU KEMANA?”
1. Pasti ketika lebaran, ada saja temen yang selalu bilang seperti itu, “KAMU LEBARAN MAU KEMANA?”
*Play
“saya nanti mau ke rumah saudara habis ini, sekalian silaturahmi disana lin”.
“ooh gitu, oh ia zah ayo mampir ke rumah saya dulu?, lebaran sama orang tua saya, Sekalian makan ketupat sayur di rumahku” ajakan elin kepada zahrudin
“ia lin nanti saja nungguin samosir dan Karin biar rame kan seru”
“ooh gitu, oh ia zah ayo mampir ke rumah saya dulu?, lebaran sama orang tua saya, Sekalian makan ketupat sayur di rumahku” ajakan elin kepada zahrudin
“ia lin nanti saja nungguin samosir dan Karin biar rame kan seru”
Ketika zahrudin dan elin menunggu 2 orang temannya di depan rumah elin tiba-tiba datang segerombolan anak kecil tak dikenal masuk ke rumah elin, untuk meminta angpaw tetapi dari segerombalan itu yang masuk hanya beberapa sisanya menunggu di luar, ketika anak yang masuk ke dalam rumah untuk lebaran dan meminta angpaw kepada pemilik rumah, ketika dikasih 2 ribu si anak itu mengasih kode sama temannya bilang hanya 2 ribu, dan temennya yang di luar mengatakan ah, Cuma 2 ribu, ayo cari lagi.
*pause
Yang terjadi di hari lebaran
2. Maunya apa gitu anak kecil datang ke rumah gak dikenal nanggok, dah dikasih segitu, tapi “MAUNYA LEBIH” memang maunya berapa? Mau banyak? Datang ke rumah saudara loe, heheh
2. Maunya apa gitu anak kecil datang ke rumah gak dikenal nanggok, dah dikasih segitu, tapi “MAUNYA LEBIH” memang maunya berapa? Mau banyak? Datang ke rumah saudara loe, heheh
*play
Ketika anak gerombolan itu sudah meninggalkan rumah elin kemudian datang 2 orang sahabat yang ditunggu yaitu samosir dan Karin.
“assallammualaikum, minal aidin mohon maaf lahir batin mas bro dan mba bro”
Dengan nada senang zah menyambut mereka “ia bro sama-sama ayo kita Masuk ke rumah elin, dia mengajak kita makan dirumany”
Zah pun tersenyum
“eh tapi sebelum kita makan kita foto-foto dulu ya”
“assallammualaikum, minal aidin mohon maaf lahir batin mas bro dan mba bro”
Dengan nada senang zah menyambut mereka “ia bro sama-sama ayo kita Masuk ke rumah elin, dia mengajak kita makan dirumany”
Zah pun tersenyum
“eh tapi sebelum kita makan kita foto-foto dulu ya”
*pause
Yang terjadi di hari lebaran
3. Kenapa ketika lebaran momen FOTO-FOTO pasti ada. SEMUA dimana saja pasti ada. Ada apa ini sebenarnya
3. Kenapa ketika lebaran momen FOTO-FOTO pasti ada. SEMUA dimana saja pasti ada. Ada apa ini sebenarnya
*play
“iya iya ayo”, “ayo eh dimana?”, “disitu aja”, “jangan jelek disini aja”, “ah bagusan disana tau”. “Ih disini aja” mereka pun berebut mencari tempat yang bagus untuk berfoto
Setelah mereka berempat sudah melaksanakan foto akhirnya mereka pun masuk ke rumah elin untuk makan masakan orangtuanya ialah ketupat sayur.
*pause
Yang tejadi di hari lebaran
4. Pasti pembaca ngiranya gua mau bahas ketupat kan, SALAH hehe, ketupat mah sudah basi untuk dibahas
4. Pasti pembaca ngiranya gua mau bahas ketupat kan, SALAH hehe, ketupat mah sudah basi untuk dibahas
Cerpen Karangan: Mukhlis Aj
Facebook: Https://www.facebook.com/mukhlis.aj
Facebook: Https://www.facebook.com/mukhlis.aj
Hadiah Terindah di Bulan Suci Ramadhan
Sinar mentari muncul di ufuk timur kota yang menjadi dambaan semua pemimpi untuk bisa meraih apa yang diinginkan di kota ini. Perlahan-lahan mentari menampakkan dirinyanya begitu juga dengan mulainya berbagai aktivitas yang menumpuk ruah di kota besar ini. Mulai dari supir angkot, kenek sopir, pedagang asongan, pedagang kaki lima di emperan toko, penjual koran, pengamen, para pekerja kantoran, hingga pejabat bertumpah ruah di jalan untuk bergegas menjemput impian dan asa yang dimiliki.
Tin… Tin… Tin… suara klakson dari penjuru arah berteriak-teriak tanda kemacetan yang menjadi rutinitas di kota besar ini. Ya itu lah yang selalu di temui oleh warga kota ini, apabila tidak berlomba dengan waktu untuk start duluan demi menghindari kemacetan yang sudah menahun seperti penyakit dalam raga seorang manusia yang tak kunjung sembuh.
“Ya ampun…, pak Anwar kenapa lewat jalan sini sih…, tuh terjebak kemacetan.” Kata seorang remaja laki-laki di dalam mobil mewah yang sedang gusar dengan wajah yang gelisah sambil melihat jam di tangan kanannya yang menunjukkan pukul 06.55.
“Bapak ndak tahu den.., kok tiba-tiba ada kemacetan di jalan ini?. Coba Bapak lihat dulu di arah depan sana terjadi apa ya?.” Pak Anwar keluar dari pintu mobilnya sambil menjinjing kakinya dan berjalan tak jauh dari mobil.
“Bapak ndak tahu den.., kok tiba-tiba ada kemacetan di jalan ini?. Coba Bapak lihat dulu di arah depan sana terjadi apa ya?.” Pak Anwar keluar dari pintu mobilnya sambil menjinjing kakinya dan berjalan tak jauh dari mobil.
Sementara itu di dalam mobil mewah remaja laki-laki yang dari tadi tampak gelisah mengeluarkan ipadnya di dalam tas sekolahnya, dan mulai menyentuhkan jari telunjuknya di layar yang berukuran 8 inci itu. Dari arah sebelah kiri trotoar datang segerombolan pengamen, beberapa pedagang asongan, dan penjual koran mendekati para pengandara mobil, motor maupun supir taksi.
Salah satu penjual koran yang masih anak-anak dengan handuk berwarna orange melingkar di lehernya mendekat ke kaca mobil mewah itu sambil menunjukkan korannya.
“Koran…, koran…, koran…” kata anak laki-laki itu.
Remaja laki-laki itu melihat dengan sekilas wajah penjual koran itu dan menghadapkan ipadnya ke arah kaca mobil dan kembali fokus ke ipadnya.
Tak ada respon dari dalam untuk dibukakan kaca mobil itu, sehingga berlalulah penjual koran itu ke mobil maupun pengendara motor dan sopir taksi lain.
“Koran…, koran…, koran…” kata anak laki-laki itu.
Remaja laki-laki itu melihat dengan sekilas wajah penjual koran itu dan menghadapkan ipadnya ke arah kaca mobil dan kembali fokus ke ipadnya.
Tak ada respon dari dalam untuk dibukakan kaca mobil itu, sehingga berlalulah penjual koran itu ke mobil maupun pengendara motor dan sopir taksi lain.
Lima belas menit kemudian pak Anwar kembali ke dalam mobil dan melaporkan apa yang terjadi.
“Wah den di depan sana ada demo besar, untungnya ada beberapa polisi yang akan mengalihkan jalur ke arah sebelah kanan dan itu tembus ke sekolah aden”. Kata pak Anwar sambil menstarter ulang kunci mobil dan menginjak gas perlahan.
“Ya udah pak tancap gas.., sudah telat nih…” kata remaja itu sambil memasukan ipadnya di dalam tas sekolahnya.
“Wah den di depan sana ada demo besar, untungnya ada beberapa polisi yang akan mengalihkan jalur ke arah sebelah kanan dan itu tembus ke sekolah aden”. Kata pak Anwar sambil menstarter ulang kunci mobil dan menginjak gas perlahan.
“Ya udah pak tancap gas.., sudah telat nih…” kata remaja itu sambil memasukan ipadnya di dalam tas sekolahnya.
Perempatan lampu merah segerombolan pengamen, pedagang asongan dan penjual koran tadi beraksi untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah demi kelangsungan hidup mereka. Satu demi satu dari mereka mulai masuk di bis, angkutan mikrolet, dan berdiri di depan taksi, mobil dan pengendara motor. Tampak dari wajah mereka penuh harapan, berharap hari ini ada penghasilan dan lebih baik dari kemarin.
Seorang anak laki-laki dari gerombolan itu menjajakan puluhan korannya yang ada di lengannya.
“Koran…koran”, hot topik… hot topik” ia berteriak dengan semangat sambil melambaikan korannya di depan pengendara mobil maupun motor yang di lewatinya.
“Koran…koran”, hot topik… hot topik” ia berteriak dengan semangat sambil melambaikan korannya di depan pengendara mobil maupun motor yang di lewatinya.
Lampu lalu lintas sudah siap mengkodekan di lampu hijau, mereka harus segera bertepi ke trotoar. Dan anak laki-laki penjual koran itu bersama gerombolan lainnya naik ke atas trotoar.
Di troator jalan ia berdiri sambil menghitung jumlah koran yang terjual,
“Alhamdulillah, sudah terjual 15 koran dari 20 koran yang setor di pagi hari ini” ucapnya dengan helaan nafas bertanda lega, dan sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil berwarna orange yang di lingkarkan ke lehernya.
Di troator jalan ia berdiri sambil menghitung jumlah koran yang terjual,
“Alhamdulillah, sudah terjual 15 koran dari 20 koran yang setor di pagi hari ini” ucapnya dengan helaan nafas bertanda lega, dan sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil berwarna orange yang di lingkarkan ke lehernya.
Matahari mulai meninggi, suhu udara pun mulai terasa panas, anak laki-laki itu menuju halte bis untuk beristirahat sejenak, di halte bis ada seorang penjual koran juga yang sedang beristirahat sebaya dengannya namanya Safir, ia duduk dekat Safir. Ia menaruh 5 koran yang tersisa di kursi halte bis.
“Sudah berapa yang terjual” Tanya Safir pada anak laki-laki itu
“Alhamdulillah, sudah laku 15 tadi pagi, rezeki hari ini cukup, lebih baik dari hari kemarin”, jawabnya sambil tersenyum dan mengelus dadanya.
“Syukurlah” Safir membalasnya
Anak itu balik bertanya pada Safir temannya.
“Kalau kamu Fir sudah berapa yang terjual koran kamu?.”
“Hanya 3 yang terjual dari 20 yang setor ke saya” jawabnya sambil memandang ke arah korannya dengan wajah yang sedih.
“Jangan sedih ya…, tetap ucapkan Alhamdulillah, insya Allah akan di tambahkan nikmat dan rezeki kepada yang tetap bersyukur kepada Allah, baik di waktu lapang dan sempit”, kata anak laki-laki itu tersenyum sambil menepuk pundak Safir untuk memberikan semangat pada temannya itu.
“Oh ya haus nih..” kata anak laki-laki itu sambil mengusap lehernya
“Kamu masih disini Safir?” Tanya anak laki-laki itu
“Iya…” jawab Safir
“Tolong jagaian koran-koran saya, saya mau beli air mineral di warung dekat sini”. Kata anak laki-laki itu sambil menepuk koran-korannya di kursi halte.
“Oke, tenang aja…” sambil mengangkat jempol kanannya.
“Sudah berapa yang terjual” Tanya Safir pada anak laki-laki itu
“Alhamdulillah, sudah laku 15 tadi pagi, rezeki hari ini cukup, lebih baik dari hari kemarin”, jawabnya sambil tersenyum dan mengelus dadanya.
“Syukurlah” Safir membalasnya
Anak itu balik bertanya pada Safir temannya.
“Kalau kamu Fir sudah berapa yang terjual koran kamu?.”
“Hanya 3 yang terjual dari 20 yang setor ke saya” jawabnya sambil memandang ke arah korannya dengan wajah yang sedih.
“Jangan sedih ya…, tetap ucapkan Alhamdulillah, insya Allah akan di tambahkan nikmat dan rezeki kepada yang tetap bersyukur kepada Allah, baik di waktu lapang dan sempit”, kata anak laki-laki itu tersenyum sambil menepuk pundak Safir untuk memberikan semangat pada temannya itu.
“Oh ya haus nih..” kata anak laki-laki itu sambil mengusap lehernya
“Kamu masih disini Safir?” Tanya anak laki-laki itu
“Iya…” jawab Safir
“Tolong jagaian koran-koran saya, saya mau beli air mineral di warung dekat sini”. Kata anak laki-laki itu sambil menepuk koran-korannya di kursi halte.
“Oke, tenang aja…” sambil mengangkat jempol kanannya.
Tidak lama kemudian anak laki-laki itu kembali dengan dua botol air mineral di kantong belanja bawaannya dari warung terdekat.
Satu air botol mineral di dalam kantong belanjaan dia keluarkan.
“Ini minum air mineral dulu, supaya nggak dehidrasi” katanya dengan memberikan satu botol air mineral dengan tanggan kanannya pada Safir.
“Tapi.., saya kan nggak minta” jawabnya sambil memandang anak-anak laki-laki itu dengan wajah heran.
“Iya…, nggak apa-apa kok, ambil saja…, kan lebih baik tangan di atas dari pada tanggan di bawah” ujarnya dengan tersenyum pada Safir.
“Terima kasih…” balas Safir dengan wajah yang malu.
Satu air botol mineral di dalam kantong belanjaan dia keluarkan.
“Ini minum air mineral dulu, supaya nggak dehidrasi” katanya dengan memberikan satu botol air mineral dengan tanggan kanannya pada Safir.
“Tapi.., saya kan nggak minta” jawabnya sambil memandang anak-anak laki-laki itu dengan wajah heran.
“Iya…, nggak apa-apa kok, ambil saja…, kan lebih baik tangan di atas dari pada tanggan di bawah” ujarnya dengan tersenyum pada Safir.
“Terima kasih…” balas Safir dengan wajah yang malu.
Suara adzan di kumandangkan tanda masuk waktu shalat dzuhur. Anak laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya, dan menggangkat koran-koran dari kursi sebelah.
“Ayo sholat dzuhur dulu..”, ajak anak laki-laki itu pada Safir temannya.
“Hmm…” Safir bergumam sambil bola matanya ke kiri kekanan.
“Ayolah, Shalat dulu, kemudian lanjutkan lagi dagangan korannya. Insya Allah diberikan kemudahan dan keberkahan dalam aktivitas dan rezeki yang diperoleh.” Kata anak laki-laki itu sambil menarik lengan tangan Safir. Kemudian mereka pun berangkat menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu dzuhur, yang lokasi masjidnya tidak jauh dari halte bis itu.
“Ayo sholat dzuhur dulu..”, ajak anak laki-laki itu pada Safir temannya.
“Hmm…” Safir bergumam sambil bola matanya ke kiri kekanan.
“Ayolah, Shalat dulu, kemudian lanjutkan lagi dagangan korannya. Insya Allah diberikan kemudahan dan keberkahan dalam aktivitas dan rezeki yang diperoleh.” Kata anak laki-laki itu sambil menarik lengan tangan Safir. Kemudian mereka pun berangkat menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu dzuhur, yang lokasi masjidnya tidak jauh dari halte bis itu.
TEET… TEET… TEET… TEET…TEET… Lima kali bel sekolah di bunyikan tanda pulang siswa-siswi SMA HARAPAN BANGSA, Siswa-siswi dengan muka ceria berhamburan dari ruang kelas. Remaja laki-laki berusia 15 tahun, tinggi, cakep, putih, dan berambut hitam tebal bersama teman-teman sebayanya dengan tawa dan canda keluar dari ruang kelas menuju pintu gerbang sekolah bersama teman-temannya. Sampai di pintu gerbang anak remaja laki-laki itu mengeluarkan BBnya dari saku celananya…
Bersambung…
Cerpen Karangan: Muhammad Rafik Makadomo
Blog: http://aphic.wordpress.com
Blog: http://aphic.wordpress.com
Penulis: Muhammad Rafik Makadomo
Twitter: @Aphic_99
Facebook: https://www.facebook.com/Aphic
Twitter: @Aphic_99
Facebook: https://www.facebook.com/Aphic
Indahnya Ramadhan Bersama Keluarga dan Sahabat
Udah gak kerasa besok udah bulan Ramadhan. Pada bulan ini Umat Islam diwajibkan untuk berpuasa kecuali wanita yang sedang berhalangan, wanita yang sedang nifas, orang sakit, orang gila, lansia, wanita yang sedang mengandung dan menyusui
Kebetulan hari ini aku dan Sarah (Sepupuku) lagi di Desa jadi tarawihnya rame banget bisa bareng sama saudara dan teman-temanku yang ada di desa. Sepulang tarawih aku, Sarah dan Elsa (temanku) beramain di teras rumah, sambil berbincang bincang. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 09.00 aku, dan Sarah mulai ngantuk, dan Elsa pun sudah di jemput oleh ibunya untuk pulang. Elsa pun berpamitan untuk pulang. Setelah Elsa pulang Aku dan Sarah pun beranjak dari teras ke kamar kami masing-masing untuk tidur.
Kriiinnnggg… kriiinnnggg… kriiinnnggg…
Suara alarm berbunyi aku segera bangun dari tidurku untuk sahur. Tapi kulihat keadaan sepi, ku kira belum ada yang bangun Rupanya, tante masih di dapur mempersiapkan hidangan untuk kami sahur nanti, sedangkan Sarah sedang menonton TV. “Baru bangun nis.” Ucap Sarah. “he he he iya ” balasku. “Tumben biasanya kan kamu yang bangun duluan?” Tanya Sarah heran. “hmmm mungkin karena semalam aku gak bisa tidur” balasku. Sedang berbinang bincang tibi-tiba tante memanggil kami untuk membantu menyiapkan makanan untuk sahur. “Anisa, Sarah tolong bantu tante meletakkan hidangan ini di ruang makan” teriak tante dari dapur. “Iya tante” balas kami bersamaan. Akhirnya kami pun menghampiri dan membantu tante untuk meletakkan makanan di ruang makan.
Suara alarm berbunyi aku segera bangun dari tidurku untuk sahur. Tapi kulihat keadaan sepi, ku kira belum ada yang bangun Rupanya, tante masih di dapur mempersiapkan hidangan untuk kami sahur nanti, sedangkan Sarah sedang menonton TV. “Baru bangun nis.” Ucap Sarah. “he he he iya ” balasku. “Tumben biasanya kan kamu yang bangun duluan?” Tanya Sarah heran. “hmmm mungkin karena semalam aku gak bisa tidur” balasku. Sedang berbinang bincang tibi-tiba tante memanggil kami untuk membantu menyiapkan makanan untuk sahur. “Anisa, Sarah tolong bantu tante meletakkan hidangan ini di ruang makan” teriak tante dari dapur. “Iya tante” balas kami bersamaan. Akhirnya kami pun menghampiri dan membantu tante untuk meletakkan makanan di ruang makan.
Setelah tugas kami selesai, kami pun duduk di meja makan. “Hmmm baunya enak banget tante” kata ku sambil mencium aroma masakan. “Iya dong siapa dulu yang masak tante gitu loh” balas tante. “Iya deh” balasku. “Tante, Anisa perutku udah laper banget nih makan yuk” kata Sarah. “Ya udah kalau gitu kita berdoa dulu sebelum makan” kata tante.
Setelah sahur kami pun bergegas ke kamar mandi utuk mandi karena nanti aku, tante, Sarah akan sholat di Masjid dekat rumah kami. Setelah semua sudah siap kami pun berangkat menuju Masjid. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Elsa. Aku pun menyapanya “Elsa…”. “Eh Anisa, kamu sholat di Masjid juga hari ini.” Balas Elsa. “Iya bareng yuk” balasku. “Ayooo” kata Elsa bersemangat. “Hey akunya kok ditinggal” kata Sarah ter enggos enggos. “hehehe maaf kamu sih jalannya santai banget” balasku. “Eh gimana kalau selesai sholat Subuh kita jalan-jalan” kata Elsa bersemangat. “Okeee” balasku bersemangat. Tak terasa kami pun sudah sampai Masjid. Kami pun segera menempati shaf yang kosong.
Shalat pun selesai dilaksanakan. Pulang dari Masjid aku dan Sarah berpamitan ke tante kalau kami akan jalan-jalan bersama Elsa. Tante pun menyetujuinya. Kami pun menyusul ke rumah Elsa yang kebetulan dekat dari rumah kami. “Asalamualaikum, Elsaaa…” ucapku dan Sarah bersamaan. “Waalaikum salam iya nis sebentar.” Jawab Elsa. Setelah semua berkumpul kami pun pergi jalan-jalan sambil menikmati udara pagi. Tak terasa jam menunjukkan pukul 06.30. menandakan bahwa kami harus pulang ke rumah. Kami pun berjalan menuju rumah kami masing-masing.
Setelah aku dan Sarah sampai di rumah, kami langsung istirahat di kamar masing-masing. Aku sangat lelah, akibatnya aku tertidur pulas. Aku tidur lama banget. Ketika aku bangun sudah jan 09.00. Setelah bangun aku buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci muka, lalu membantu tanteku beres-beres rumah.
Setelah itu aku mandi, ambil air wudhu terus sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur aku mengerjakan PR. “Lagi ngerjakan tugas apa tuh Nis?” tanya Sarah. “Ini loh tugas Bahasa Indonesia membuat cerpen” jelasku. “Apa kamu perlu bantuan Nis” Tawar Sarah. “Perlu banget Sarah” jawabku. Sarah pun membantuku. “Alhamdulillah tugasku selesai juga” gumamku. “Iya Nis ternyata susah susah gampang ya tugasmu” kata Sarah.
Ketika aku akan membereskan tugasku tiba-tiba Elsa datang. “Asalamu’alaikum Nisaaa… Saraaahhh” panggil Elsa. “Waalaikum salam, ada apa Elsa” Sautku. “Boring nih di rumah, ngabuburit di halaman rumah kamu yuuuk, sambil ngeliat bulan” cetus Elsa. “Waaaah seru tuh” sautku dan Sarah bersamaan. “Ya udah kalau gitu aku mau minta izin dulu ke tante” kata Sarah.
Sarah pun meminta izin kepada tante. “Tante aku sama Anisa boleh main di halaman gak sambil ngabuburit” izin Sarah kepada tante. “Boleh boleh aja asal maghrib langsung masuk rumah ya Sarah” jawab tante. “siiippp tante” kata Sarah.
Sarah pun meminta izin kepada tante. “Tante aku sama Anisa boleh main di halaman gak sambil ngabuburit” izin Sarah kepada tante. “Boleh boleh aja asal maghrib langsung masuk rumah ya Sarah” jawab tante. “siiippp tante” kata Sarah.
“Anisa, Elsa kita di bolehin main di luar” kata Sarah senang. “Alhamdulillah teman teman kita di bolehin main” Sautku. Akhirnya aku, Sarah, dan Elsa pergi ke halaman rumah sambil berbincang bincang, dan melihat bintang. Waktu pun berlalu tak terasa adzan sudah berkumandang. Aku dan Sarah pun bergegas menuju rumah. “Asalamualaikum” kata kami bersamaan. “Waalaikum salam” jawab tante. Aku bergegas mengamil minum, setelah mengambil minum aku pun meminumnya. Tapi ketika aku hendak meminumnya tanteku mencegahnya “Berdo’a dulu Nis sebelum berbuka” tegur tante. “Oh iya tante lupa” jawabku.
“Allahumma lakasumtu wabika amantu wa’ala rizkika aftortu birahmatika ya arhamarrahimin” Aku, Sarah, tante berdoa bersama. Setelah itu kami minum, dan siap” untuk sholat maghrib. Setelah Sholat kami makan bersama di ruang makan.
Tak terasa hari ini adalah puasa terakhir dan besok sudah Hari Raya Idul Fitri, yap berarti nanti malam Takbiran. Sekarang aku harus mempersiapkan pakaian, mukena, jilbab, yang akan aku gunakan sholat Idul Fitri besok. Setelah selesai mempersiapkan yang akan aku gunakan besok, Aku mandi, lalu sholat Dzuhur. Setelah itu aku tidur siang.
Aku bangun pukul 15.00. Aku langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan siap-siap untuk Sholat Ashar. Ketika aku akan sholat Sarah memanggilku. “Nis” panggil Sarah. “Ada apa Sarah” jawabku. “Sholatnya bareng ya tunggu aku, aku mau ambil wudhu” balas Sarah agak berteriak dan berjalan menuju keran air. “Iya Sarah agak cepat ya” balasku agak berteriak. Setelah Sarah selesai berwudhu kami pun sholat bersama. Selesai sholat kami membaca Al-Qur’an bersama hingga pukul 17.00. Selesai bertadarus kami membantu tante untuk menyiapkan hidangan buka puasa.
“Allahu Akbar Allahu Akbar. 2x
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah. 2x
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. 2x
Hayya’ Alash Shalaah. 2x
Hayya’ Alal Falaah. 2x
Allaahu Akbar Allahu Akbar.
Laa Ilaaha Illallaah.”. Suara adzan berkumandang. Aku, Sarah, Tante pun segeran membaca doa berbuka puasa dan meminum minuman yang manis, karena itulah tata cara Rasulullah S.A.W. berbuka puasa. Setelah itu kami Sholat Maghrib bersama. Setelah sholat baru kami berbuka puasa. Setelah berbuka Elsa mengajakku untuk membeli ice cream dan melihat pawai. “Anisa, Sarah kita beli ice cream yuk untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri” ajak Elsa. “Ayooo tapi aku izin tante dulu ya sekalian ambil uang” jawabku. “Okeee aku tunggu ya” jawab Elsa.
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah. 2x
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. 2x
Hayya’ Alash Shalaah. 2x
Hayya’ Alal Falaah. 2x
Allaahu Akbar Allahu Akbar.
Laa Ilaaha Illallaah.”. Suara adzan berkumandang. Aku, Sarah, Tante pun segeran membaca doa berbuka puasa dan meminum minuman yang manis, karena itulah tata cara Rasulullah S.A.W. berbuka puasa. Setelah itu kami Sholat Maghrib bersama. Setelah sholat baru kami berbuka puasa. Setelah berbuka Elsa mengajakku untuk membeli ice cream dan melihat pawai. “Anisa, Sarah kita beli ice cream yuk untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri” ajak Elsa. “Ayooo tapi aku izin tante dulu ya sekalian ambil uang” jawabku. “Okeee aku tunggu ya” jawab Elsa.
“Tante aku boleh beli ice cream” tanyaku. “Boleh” jawab tante. “Makasih tante, ya udah kalau gitu aku sama Sarah berangkat dulu ya. Aslamualaikum” kataku berpamitan. “Waalaikum salam” jawab tante. Setelah berpamitan aku pun segera mengambil uang dari dompetku.
“Sarah, Elsa ayo berangkat” ajakku. “Ayoo Lets go” jawab Sarah dan Elsa bersamaan. Karena toko ice creamnya lumayan jauh kami pun naik sepeda. Setelah kami sampai kami pun segera membeli ice cream.
Setelah membeli ice cream kami pun merayakan Idul Fitri dengan menikmati ice cream dan melihat pawai yang cukup meriah
SELESAI
Cerpen Karangan: Choirunisa
Facebook: Choirunisa
Facebook: Choirunisa
Alamat: kapasari 9 DKA no 74
Sekolah: SMPN 37 Surabaya
Sekolah: SMPN 37 Surabaya
Hari Raya Idul Fitri Yang Mengesankan
Aku berumur 12 tahun. Hari ini adalah hari ketiga sebelum hari raya, tapi hari ini aku sedih, aku tidak boleh berpuasa karena, hari ini aku sedang sakit. Waktu aku bangun tidur pukul 03.30 badanku panas, dan menggigil, rasanya aku lemas sekali. Setelah itu orangtuaku berkata, “Intan, sebaiknya kamu istirahat saja tidak usah puasa dulu nanti, puasanya diganti lain waktu!”. Meskipun aku sempat membantah ingin bepuasa tapi, aku sadar apabila tindakanku itu salah, lalu aku menuruti apa perintah orangtuaku karena, aku ingin cepat sembuh supaya aku bisa berpuasa lagi. Setelah pukul 06.00,aku sarapan pagi, dan minum obat, meskipun rasanya tidak enak untuk ditelan, dan tidak enak karena, hanya aku yang tidak berpuasa.
Waktu terus berjalan sedangkan, tidak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan jadi, lebih baik aku membaca buku saja sambil mengisi waktuku yang kosong. Tidak lama setelah membaca buku, Ibuku berkata, “Hari ini saudara sepupumu yang dari Semarang akan datang ke Surabaya, dan singgah di rumah nenek”. Mbak Pipit ya, yang mau datang kesini, “kata adikku yang bernama Alsya”, ya mbak Pipit akan datang kesini, “kata ibuku”. Pipit adalah nama saudara sepupuku yang akan datang ke Surabaya, aku, dan adikku sangat senang apabila saudara sepupuku akan datang ke Surabaya karena, dia adalah sepupuku yang paling dekat denganku, dan karena dia juga sebaya denganku.
Setelah itu pukul 14.00 saudara sepupuku sudah sampai di rumah nenek. Aku dan adikku senang sekali karena mereka sampai di rumah nenek dengan selamat.
Keesokan harinya aku ikut berpuasa tapi, setelah makan sahur aku minum obat. Setelah pukul 09.45 saudara sepupuku yang dari Semarang itu datang ke rumah ku, aku sangat senang sekali, dia datang bersama ibunya, dan kakaknya yaitu, “budheku, dan kakak sepupuku”, lalu aku, adikku, dan sepupuku itu bermain-main. Setelah maghrib kami semua sholat maghrib berjamaah, lalu buka puasa bersama, aku sangat senang sekali karena, jarang-jarang aku bisa buka puasa bersama-sama. Setelah berbuka puasa, aku mengajak saudaraku untuk sholat Tarawih di masjid dekat rumahku. Setelah selesai sholat, orangtuaku mengantarkan saudaraku untuk pulang ke rumah nenek.
Keesokan harinya, aku bangun pukul 03.15 untuk makan sahur bersama orangtuaku, sambil menonton televisi sejenak untuk hiburan. Acara televisi yang selalu aku lihat bersama orangtuaku waktu makan sahur adalah film “Yuk Kita Sahur” di RCTI, karena, acaranya sangat menghibur. Setelah itu aku membatu ibu untuk membersihkan rumah. Sesudah itu aku ingin menggambar, karena menggambar adalah salah satu kegiatan kesukaanku, setelah menggambar aku mewarnai gambaranku, waktu aku mewarnai gambaranku tiba-tiba gambaran langit aku dicoret sama adikku dengan warna hitam, lalu aku berkata, “kenapa alsysa langitnya kamu coret pakai warna hitam”, biar langitnya mendung mbak, “kata adikku”, lalu aku berkata, “sudah mendingan gambarannya buat kamu saja”, ye… Terima kasih ya mbak, “kata adikku”.
Sesudah azan magrib, aku sholat magrib, lalu aku berbuka puasa sambil menonton televisi, waktu aku menonton televisi, ternyata ada sidang isbat yang akan dimulai, setelah selesai sidang isbat ternyata, 1 Syawal 1434 H, jatuh pada hari Kamis, 08 Agustus 2013 besok. Waktu mendengar berita itu aku sangat senang sekali, kalau besok itu 1 Syawal 1434 H, apalagi Hari Raya Idul Fitri besok dirayakan serentak, pasti besok ramai sekali, malam ini saja di langit atas rumahku banyak kembang api berbunyi dan bertebaran, lalu aku menyiapkan pakaianku yang akan dipakai untuk sholat Idul Fitri besok.
Hari ini aku bangun pukul 04.25, untuk bersiap-siap untuk sholat Idul Fitri, tapi orangtuaku tidak bisa ikut sholat bersamaku jadi, aku sholat Idul Fitrinya bersama sepupuku, lalu aku diantarkan oleh ayahku ke rumah nenekku untuk sholat Idul Fitri bersamanya. Setelah sampai di rumah nenek ternyata, saudaraku sudah bersiap-siap untuk sholat Idul Fitri, lalu aku segera bargegas bersama saudaraku untuk sholat bersama di Gelora 10 November. Setelah sampai di Gelora 10 November, aku dan saudaraku segera mengambil tempat, dan bersiap-siap untuk sholat. Setelah sholat kami mendengarkan ceramah sejenak. Sesudah sholat dan mendengarkan ceramah aku diajak saudaraku untuk membeli sate ayam, untuk dimakan bersama di rumah.
Setelah sampai di rumah ternyata, orangtuaku beserta adikku sudah sampai di rumah nenek, lalu aku beserta orangtuaku, dan saudara-saudara sepupuku semuanya sudah berkumpul dan saling bermaaf- maafan. Lalu aku minta maaf, dan sungkeman kepada kakek, nenek, dari ibuku, dan sungkeman kepada kedua orangtuaku, rasanya aku terharu, dan sedih sekali karena, aku sudah banyak dosa kepada kedua orangtuaku. Dan aku senang sekali karena, aku bisa bermaaf-maafan dengan orang-orang di sekelilingku dengan perasaan tulus dan ikhlas.
Setelah itu giliran aku ke rumah kakek, dan nenekku yang dari ayahku. Setelah sampai disana saudara-saudara sepupuku juga sudah berkumpul disana, lalu aku, dan orangtuaku langsung sungkeman kepada kakek dan nenek, dan maaf-maafan kepada semuanya disana, aku senang sekali karena juga bisa bermaafan disini dengan tulus. Lalu orangtuaku berbincang-bincang bersama kakek dan nenek, sedangkan aku disuruh makan bersama, saudara-saudara sepupuku, lalu bermain-main.
Setelah cukup lama bermain, adikku meminta untuk ke rumah nenek, dan kakek dari ibu, untuk bermain bersama mbak Pipit, saudara sepupuku. Lalu kami pergi ke rumah kakek, dan nenek dari ibu, disana banyak tetangga yang silatuhrahmi. Disana aku dan adikku juga bermain-main dengan saudara-saudara sepupuku. Tak terasa waktu sudah malam, lalu aku, adikku, dan orangtuaku pulang ke rumah.
Keesokan harinya aku bangun pukul 04.45 lalu, membantu ibu bersih-bersih rumah. Hari ini saudaraku sepupuku yang dari Semarang pulang ke rumahnya di Semarang, awalnya aku merasa kesepian, karena tidak ada dia. Tapi aku yakin, di lain waktu nanti dia akan kesini lagi, lagi pula aku kan bisa saling mengirim pesan dengannya. Setelah pukul 08.10 ternyata ada tetangga di sekitar rumah yang bersilatuhrahmi, aku senang sekali karena, jarang-jarang ada tetangga yang bersilatuhrahmi di rumah.
Setelah itu aku, kedua orangtuaku, dan adikku, beserta saudara sepupuku bersilatuhrahmi ke rumah saudara jauhku, yang sudah sangat akrab, dengan kakek, dan nenekku. Disana aku dan semuannya saling bermaafan, lalu aku bermain-main di taman dekat rumah saudaraku itu.
Setelah dari rumah saudara jauhku, aku pergi ke rumah saudara sepupuku. Disana aku diajak untuk bermain sepeda. Setelah bermain sepeda aku diajak untuk bersilatuhrahmi ditetangga disekitar rumah sepupuku itu. Awalnya aku menolaknya tapi karena, dibujuknya dengan alasan meningkatkan tali silatuhrahmi akhirnya aku mau. Waktu aku berkunjung ke rumah tetangganya saudaraku itu, bersama saudaraku, ternyata tetangganya saudaraku itu mudah akrab ya denganku, aku senang sekali, karena bertambah banyak orang yang ada di sekelilingku, hanya karena silatuhrahmi. Oleh karena itu aku ingin sekali untuk menjaga tali silatuhrahmi dengan orang di selelilingku.
Setelah selesai bermain di rumah saudaraku, aku pulang ke rumah. Karena aku sangat lelah aku langsung tertidur waktu sampai di rumah.
Aku senang sekali karena, dengan Hari Raya Idul Fitri ini orang-orang di sekelilingku saling berkumpul bersama di suatu tempat, dan aku biasa saling meminta maaf, dengan tulus dan iklas, dengan perasaan yang penuh dengan rasa bersalah. Dan pada Hari Raya Idul Fitri ini aku bisa menambah banyak teman, dan menguatkan tali silatuhrahmi.
Pada intinya, Hari Raya Idul Fitri kali ini, sangat mengesankan, dan menyenangkan untukku, dan semuannya.
Aku senang sekali karena, dengan Hari Raya Idul Fitri ini orang-orang di sekelilingku saling berkumpul bersama di suatu tempat, dan aku biasa saling meminta maaf, dengan tulus dan iklas, dengan perasaan yang penuh dengan rasa bersalah. Dan pada Hari Raya Idul Fitri ini aku bisa menambah banyak teman, dan menguatkan tali silatuhrahmi.
Pada intinya, Hari Raya Idul Fitri kali ini, sangat mengesankan, dan menyenangkan untukku, dan semuannya.
Cerpen Karangan: Annisa Intan K
Langganan:
Komentar (Atom)