Rabu, 18 Maret 2015

Tersesat

Pada suatu hari yang terlalu cerah, ada dua pelajar yang bernama Yanto Ediman dan Edward Jeremi Wijaya yang sedang berjalan-jalan mencari uang di di kamar Jeremi.
“Hey Jeremi, aku menemukan uang 500 rupiah di bawah kasurmu!” Ucap Ediman dengan sangat girang setelah berjam-jam mencari uang 500 rupiah tersebut.
Akhirnya, setelah mereka membeli permen dengan uang tersebut, mereka tersasar. Mereka sedih karena tidak tahu arah jalan pulang bagaikan butiran debu. Tanpa berpikir panjang, Yanto mengajak Jeremi untuk berlari tanpa tujuan dan berharap dapat kembali ke rumah Jeremi. Mereka berlari-lari berjam-jam mengelilingi kampung sampai warga setempat terheran-heran.
“Yanto, aku sudah tidak kuat lagi!” Ucap Jeremi tersengal-sengal.
“Yah, cupu nih Jeremi, udah lah, beberapa mil lagi pasti kita akan menemukan rumahmu, kamu kan juga pemain sepak bola liga Kampung Makmur, pasti tenaganya gak habis-habis.” Bujuk Yanto pada Jeremi.
“Bumi ini memang segeda apa sih?! kayaknya kita dari tadi berjalan tak bisa menemukan rumahmu.” Ucap Jeremi dengan kesal.
“Bumi itu Planet yang besar, kayak perutmu yang bulat.” Balas Yanto pada Jeremi.
Beberapa ribu centimeter dari tempat Jeremi dan Yanto berdiri, ada seorang Satpam yang penasaran apa yang terjadi dengan kedua anak tersebut. Saptam tersebut mendatangi Jeremi dan Yanto dengan perlahan. “Kalian kenapa? Kalian orang normal kan? Apa yang kalian lakukan tengah malam begini?” Tanya satpam tersebut dengan heran.
“Kita tersesat Pak, saya tinggal di Jl. SesamaMakmurah blok. J no. 96, apakah bapak tau tempatnya?” Tanya Jeremi dengan percaya diri.
“Oh itu, kalau itu saya tau, deket kok dari sini, nanti adek ke perempatan sebelah sana terus belok kanan.” Jawab Saptpam tersebut.
“Oooo, begitu ya pak. Kalau begitu terima kasih ya sudah mau membantu kami.” Ucap Jeremi.
Akhirnya Jeremi dan Yanto pergi ke permpatan dan belok kanan. mereka sangat bahagia, bangga dan menggila karena sudah bisa kembali ke rumah Jeremi.
“Jeremi, kita sudah sampai dirumahmu, sekarang aku mau pulang, apakah kau bisa mengantarkanku? Soalnya aku tidak berani malam-malam berjalan sendiri.” Tanya Yanto.
Jeremi pun akhirnya mengantarkan Yanto kembali ke rumahnya. Setelah itu, saat perjalanan pulang, ia kembali tersesat. Ia pun menangis berjam-jam hingga warga setempat terheran-heran.
Pada keesokan harinya, Jeremi ditemukan oleh supirnya di dalam tong, sendiri dan tak ada yang menemani bagaikan butiran debu.
Cerpen Karangan: Juan Farell Haryanto
Blog: indokrefcerpen.blogspot.com
ujian peraktek

Nama ; eko .prasetio
kelas ; 9 D

Sabtu, 14 Maret 2015

Perjuangan Seorang Adik

Pada waktu dahulu hiduplah sepasang suami istri yang mempunyai dua anak yang bejenis kelamin laki-laki semua. Beberapa bulan kemudian sang istri pun meninggal dunia karena ia mempunyai penyakit yang sangat parah sehingga tidak dapat diobati dan ia pun meninggalkan kedua anaknya beserta suaminya.
Di suatu ketika ayah dari kedua anak tersebut bekerja keras dan berusaha untuk menghidupi kedua anaknya dengan cara apapun agar kedua anaknya itu bisa sekolah kejenjang yang tinggi.
Kedua anak tersebut yang bernama Ridwan dan Wawan itu satu sama lainnya saling melengkapi dan tidak pernah bermusuhan apalagi bertengkar, walaupun mereka kehidupannya amat sederhana. Ketika kakaknya yang bernama Ridwan menginjak umur 14 tahun yang baru saja duduk di kelas 2 SMP itu sedangkan adiknya yang bernama Wawan yang baru duduk di bangku kelas 5 SD. Ayah dari kedua anak tersebut sangatlah berjuang demi apapun yang penting anaknya bisa bahagia walau ia tidak perduli apa nanti yang akan tertimpa olehnya, yang sekarang ayahnya itu bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah perumahan.
Saat itu ayah mereka menimpa sebuah kecelakaan yang amat serius pada bagian kakinya yang terkena besi-besi bangunan yang sangat lumayan berat sekali sehingga kakinya tersebut harus diamputasi. Ridwan dan Wawan sangat bingung dan sedih sekali, mereka tidak tau harus bagaimana caranya agar bisa mengobati dengan secara modrn dan sedangkan mereka hanyalah keluarga yang sederhana dan untuk makan pun hanya apa adanya, apalagi untuk membiayai biaya rumah sakit dan persalinan ayahnya. Dan akhirnya mereka berfikir apakah di antara mereka harus mengalah untuk keluar dari sekolah dan tidak melanjutkannya sebab untuk mencari biaya pengobatan ayahnya. Dan akhirnya adiknya yang bernama Wawan pun ia rela keluar dari sekolah demi ayahnya yang sakit itu dan kakaknya yang ingin mengejar suatu impiannya. Wawan tidak mau melihat keluarganya menangis dan bersedih dan ia ingin membahagiakan kakaknya dan ayahnya agar bisa tersenyum gembira.
Lima tahun kemudian Ridwan dan Wawan ditinggal pergi untuk selamanya lagi oleh ayahnya yang tercinta itu dan mereka hidup hanya berdua saja. Wawan yang hanya kini keluar dari sekolahnya ia sekarang bekerja sebagai buruh panggul di pasar tradisional, dengan alasan ia ingin mewujudkan impian kakaknya itu yang ingin menjadi MANAGER PERUSAHAAN. Kini kakaknya Ridwan sekolah di vakultas kebisnisan yang dibiayai dengan hasil dari kerja keras adiknya itu.
Suatu ketika adiknya pergi meninggalkan kakaknya dengan alasan ia tidak mau memalukan kakaknya di depan teman-temannya sebab malu dengan keadaan adiknya. Dan beberapa hari, minggu dan bulan Ridwan selalu mencari-cari adiknya itu tetapi pencarian itu sunnguh tidak dapat hasil sedikitpun yang ada ia hanya salah orang saja ketika ia mencari sang adik tercintanya itu.
Disaat perjalan pulang dari sekolahnya itu Ridwan melihat Wawan adiknya yang sedang duduk di pinggir jalan sambil membawa koran dengan pakaian yang compang-camping tidak karuan, Ridwan sangat sedih hatinya terasa bersalah melihat adiknya seperti itu dan sedangkan dia di rumah makan dengan yang enak dan berkehidupan yang layak tapi kenpa adiknya seperti itu?. Lalu Ridwan memanggil adiknya “Wawannn…”, Wawan pun menoleh ke belakang tetapi bukannya ia menyaut kakaknya ia malah pergi dan lari entah kemana. Ridwan merasa ia bersalah besar kepada adiknya dan merasa bahwa ia telah menelantarkan adiknya.
Dua tahun telah berlalu dan Ridwan pun masih mencari adiknya yang kini entah kemana ia pergi dan ia tinggal. Disaat pertama kali Ridwan melihat adiknya ia langsung berteriak memanggil namanya dan mengejarnya sampai ia benar-benar mendapatkan adiknya, dan lalu Ridwan bertanya “kenapa kau selalu menghindar dariku wan?”, wawan hanya terdiam seolah ia tak mendengar pembicaraan kakaknya. “wan jawab mengapa kau seringkali menghindar ketika aku memanggil namanmu? Apakah aku bersalah kepadamu apakah kau benci padaku katakanlah wan?”, “tidak! Aku sama sekali tidak membencimu dan sama sekali kakak tidak bersalah kepadaku.” Jawab adiknya dengan muka yang kecut, “tapi kenapa kau selalu menghindar ketika aku panggil namamu?” bujuk kakaknya, “aku bersalah aku takut memalukanmu kak!” jawab dengan lesunya, “kau tidak bersalah dan kau tidak memalukan aku, tapi aku yang membuatmu merasa malu. Aku sekarang sukses itu karena mu wan, dan aku ingin kita hidup bersama lagi dan kau selalu ada di sampingku menemaniku disaat suka maupun duka bukan seperti ini yang kau selalu menghindar terus dari aku wan?” terus membujuk adiknya. Tapi Wawan terus pergi dan tak mau melhat kakanya, ia hanya ingin kakaknya bahagia tanpa seorang adik yang selalu mengganggunya dan ia ingin melihat kakaknya hidup bahagia dan sukses tanpa seorang adik yang dulu ia selalu dimarahi oleh ayahnya.
Wawan merasa bersalah pada kakaknya karena dahulu yang selalu disayang itu Wawan bukan Ridwan maka dari itu Wawan ingin membalasnya dengan mewujudkan impiannya tanpa seorang adik yang selalu membuatnya marah dan kesal. Wawan ikhlas demi apapun yang ia lakukan terhadap kakaknya itu tanpa ia melihat kehidupan ia sekarang yang menjadi buruh di pasar ataupun penjual koran jalanan.
Cerpen Karangan: Sri Puji S
Blog: http://sripujisusilawati21.blogspot.com


Nama saya sri puji s
sekarang saya duduk di kelas X
saya dari daerah cirebon – jawa barat
trimakasih

Sang Penari

“Ting tong” nada pesan diponsel BBnya berdering, sambil mendengarkan penjelasan dosen pada mata kuliah pengantar filsafat. Perlahan ia ambil BBnya. Ada pesan singkat yang membuatnya tersenyum, lucu, mungkin bahagia ‘jam 19:00 q jmput’ segera ia balas kalimat itu ‘oke’, sesaat telah terkirim, kini ia kembali pada penjelasan pengantar filsafat yang melelahkan. Dari pengantar itu ia dapat kesimpulan bahwa di dalam ilmu filsafat, ia adalah makhluk yang diberi akal.
Akal menjalankan kehendak nafsu, dan nafsu sebagian dari kebahagiaan. Ah, tentu menyenangkan, bukan sekedar aktualisasi hidup dalam kehidupan saja, paling tidak ada pemikiran rekontruksi tubuh untuk melepaskan ikatan ketergantungan terhadap alam
Adakalanya bertindak positif saja disalahkan, apalagi yang negatif, pastinya disana akan terbentur pada aturan yang meletihkan. Haha, seru juga permainan pemikiran seperti itu. Barangkali tidak begitu rumit, bukankah tangga selamanya naik?!. Ruang dan waktu merupakan lingkup materi yang dapat dikaji, maka dapat dibuktikan bahwa ini sebagai inti dari pengetahuan. Cukup seabrak pernyataan dari pertanyaan tentang diri sebenarnya siapa dan untuk apa, kenapa menjadikan begini dan begitu jawabannya.
Satu jam telah berlalu, perkuliahan disudahi bersamaan dengan matinya aliran listrik, kemas manis perjalanan mempesona, keindahan memolek ruang dimana muzaik menari nari di ujung tanduk warna. Di seberang sana terlihat bangunan menjulang tinggi.
Berhilir mudik kendaraan mewah, dari penampakan yang cukup terang. Negeri ini bernafas bunga, taman hijau tumbuh dari genangan air mata, terkordinasi dalam pamplet birahi. Dulu desas desus tersebar bahwa negeri ini merupakan negeri yang tumbuh dari kesuburan. Bahkan katanya telah dianugrakan tuhan untuk penduduknya dengan banyaknya para perempuan yang cantik jelita. Menjadikan taman kota sebagai tempat mahkota suci yang tersentuh oleh kebiadaban. Akan tetapi, kepercayaan penduduk itu terkuras lewat kemiskinan. Maka negeri itu pun kering keimanan, miskin keyakinan
Pada suatu ketika, ada seorang lelaki datang membawa berita bahwa ia dapat menyuburkan kembali negeri itu, negeri yang di diami oleh para penari.
Setelah sekian lama berdiam, lelaki itu bertamasya pada hamparan bukit. Pohon rimbun telah mengajaknya berdansa dengan malam. Gelap yang terindah, rembulan kadang menghias diri dengan purnama, cahayanya menyeruak ke seantero alam. kunang kunang bertebaran, sekali menghisap embun yang hinggap pada pori pori daun.
Burung kalilawar berpesta di atas pohon, mencari manisnya buah yang bergelantungan. Pada saat itu, kisah malam pun mulai dikunandangkan. Pelakon membaca naskah yang dikarang oleh sang waktu, desas desus tak hanya pandai bercerita. Namun juga Tak ada sebagian yang terlepas untuk diulas. Malam memang dalangnya cerita, dari rangkaian tangan melukiskan tubuh di atas kanvas yang bertaburan warna tumpah oleh nyanyian sunyi. Desahan nafas tersendat oleh gejolak birahi, bahkan malaikat pun ambil peran pada saat itu. Dan kau terlelap padanya
Ketika laki laki itu kembali, ia tersadar pada saat itu ada janji. Janji untuk menjemput kekasihnya ke suatu tempat, kekasih malam dengan polesan purnama di pipinya, bintang itu mengedipkan zona yang tidak tertulis dalam sekenario alam. Serupa blitz pada kamera kehidupan, hanya satu klik disana menggantung gambar nyata.
Kekasih malam itu kini sudah mengunggu di amperan kosannya, dengan gaun transparan, rambutnya terurai panjang, ia seakan dibiarkan bergoyang mengikuti desiran angin yang mencuri pandang. Badannya yang tinggi semampai, matanya yang lentik tidak henti hentinya memandang jalan. Kadang ia merasa lelah terhadap janji itu. Benarkah ia akan datang malam ini?
Di tangannya masih tergenggam BBnya. Mungkin disana sudah ada pesan keberadaan kekasihnya. Ah, tak ada. Kemudian menuliskan kalimat pendek “dimana, jadi ga’?” pesan terkirim selang beberapa detik. balasannya pun telah nangkring di layar alat tempat curahkan segala gejolak jiwanya. “sebentar lagi sampai” ia tersenyum mendatar.
Senyum yang ia ciptakan oleh gelap malam, gelap hati nurani bila setiap kobaran gejolak menguasai pikirannya, hanya satu dalam diri untuk mengatakan “tidak”, selebihnya alam melepaskan diri, menyerahkan semuanya kepada empunya. Halnya laut melayarkan perahu, gelombang dan angin menjadi kendali di setiap dermaga.
Gadis itu bernama tasya. Mahasiswa angkatan baru di universitas harapan, ia terlahir dari seorang sederhana. Hidupnya yang serba terbatas membawa ia pada keyakinan yang berombak, gejolak dan gelombang terlalu deras untuk mempertahankan hidup. Dimana keyakinan yang ia ketahui dan dipercayai bahwa segala sesuatu berawal dari kenyataan, kenyataan pada hidupnya memberi ruang bertindak sesuai dengan apa yang kelihatan, bahkan ia sudah meyakini itu semua
Ada satu mahkota yang blum disentuh dalam jiwanya, setiap ia mengikat kuat untuk tetap tejaga, sesuatu yang menjadikan semua mata terperangah olehnya. Paras wajahnya yang elok membuat ia berteman dengan warna. Hitam, putih, merah adalah bagian bentuk raganya. Pada keyakinan itu ada sebait doa yang selalu ia tanam, hari esok merupakan lembaran yang lepas, hari ini strukturalisme terindah. Seindah kerlip lampu taman kota, negeri penuh para penari menggoreskan tinta cinta kepada dunia
Disuatu kesempatan, gadis itu diajak teman sekolahnya waktu SMA ke suatu tempat dan di tempat itu ia memulai kehidupan baru sebagai bunga yang semerbak wanginya yang tidak habis untuk dihisap. Atas dasar kemiskinan ia melepas aktribut suci yang ia simpan dengan lautan iman. Ah, itu hal yang telah biasa terjadi pada negeri ini. Negerinya para bidadari yang telah kau suarakan sebagai negeri paling agamis. Ketakwaan pada sang pencipta semesta dan kepada yang menjadikan malam tempat dimulainya cerita mengesankan. Ceria, lara, bahagia dan juga luka.
Kini negeri itu telah menjadi dongeng yang selalu dibicarakan orang orang, seakan tak ada habis untuk terlewatkan. tidak dpat mengerti mengapa mereka tiada henti mendongeng. Sepertinya mereka ingin menikmati kedamaiannya.
Ya, Dongeng dimana perempuan sebagai mahkota yang harus dilindungi supaya kesuburan tetap terjaga. Perempuan yang melantunkan nyanyian surga. Tapi kemerlap bintang mengedipkan warna yang lebih cerah. Menampakkan polesan merah pada bibir juga betis yang putih mengudang harapan. Hanya harapan yang selalu indah dalam bayangan. Sehingga terasa sayang bila tidak ikut menanam bunga di taman, menabur harum di setiap sisi tubuh mereka dengan keringat dingin.
Tasya, gadis bertubuh indah, tinggi putih itu kini telah menyerupai bulan. ia disanjung oleh semua lelaki di kampusnya, bahkan di kota itu telah jadi pelabuhan asmaranya yang penuh getir. mereka terkulai ke dalam pelukannya yang hangat. Sebagian jadi tempat curah lelahnya. Ia merasa hidup dengan berlinang api dosa kadang menjadikan seseorang tambah dewasa.
Pencarian jati diri itu sebenarnya ketika sudah dewasa, adakala kedewasaan adalah mengerti akan kebutuhan yang otomatis sebagai sarana hidup di dunia. Apakah anda sudah dewasa? Mari dewasakan dengan kebutuhan kita pada hari ini.


Cerpen Karangan: Ali Makki
Blog: Http://alibagaskara.blogspot.com/
*ALI MAKKI, lahir di batu tanam, sambung makmur, banjar. Kini sebagai mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin, Fak. Syariah. Gaet bergabung dengan komunitas Pondok Huruf Sastra (PHS) IAIN Antasari Banjarmasin

Maaf Jangan Ditiru

Persahabatan 2 anak ini sudah cukup lama mereka jalankan, sebut saja Cetar dan Membahana, sekarang mereka duduk di bangku kelas 9, waktu itu adalah pemberitahuan jadwal pelajaran, mereka pun melihat seksama, “pa a” kata cetar dengat tiba-tiba, “apa pe a” membetulkan kata cetar yang salah, “lihat itu guru yang tidak disukai oleh kita mengajar di kelas kita”, Mereka pun pasrah walau sedikit kecewa. Ternyata mereka mendapatkan guru yang tidak disukai oleh mereka sebut saja Pak Botol namanya.
Hari dimana pak botol mengajar di kelas mereka. Cetar dan Membahana mendengarkan penjelasan Pak Botol dengan lesu, malas dan mengantuk, “Tar aku pengen pingsan aja, dari tadi ngomong terus kaya nyamuk” kata Membahana kepada Cetar, “jangan pingsan, nanti gak ada yang mau ngangkat kamu” mengejek Membahan agar tidak bosan.
Setiap pelajaran pak botol semua siswa telah dipengaruhi oleh Cetar dan Membahana yang malas untuk mendengarkan penjelasan dari Pak Botol yang tidak ada ketertarikannya sama sekali.
“gimana kalo kita beri gelar kepada bapak ini dengan julukan jubir” kata Cetar sambil tertawa, “oke” dengan lantangnya Membahana menjawab.
Pak Botol ini pun diberi gelar dengan Cetar dan Membahana yaitu gelar jubir, karena menurut mereka Pak Botol sangat kuat berbicara selama 2 jam, tanpa henti.
Setiap Pak Botol membelakangi Cetar dan Membahana, 2 sahabat ini melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dicontoh, seperti joget cesar, melempar kertas, hal-hal itu pun ternyata membuat siswa lainnya terpangaruhi dan mengikuti dengan karya berbeda-beda.
Kali ini Cetar dan Membahana mempunyai ide, setiap ada pelajaran Pak Botol mereka harus bergantian untuk membeli permen atau jajan, untuk dimakan saat pelajaran Pak Botol agar tidak bosan. Ide mereka ternyata didukung oleh teman-teman lainnya. Waktu yang ditunggu-tunggu oleh mereka, saat Pak Botol menjelaskan dan membelakangi siswa hampir semua siswa makan di dalam kelas tanpa harus ketahuan oleh Pak Botol, dengan cara yang sangat menarik contohnya cetar yang menguap lalu menutup dengan tangannya dan di dalam tangannya itu sudah disiapkan permen, lalu diemutnya hingga habis.
Hal Ini Pun Sampai Sekarang Masih Terjadi Dan Terlaksanakan!
Cerpen Karangan: Arief Gilang
Facebook: Gilang Arief
(cerpen ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan nama dan tempat saya minta maaf)
Badudu Cs adalah nama persahabatan saya.

Liburan di Jepang

Hai, namaku Charlotte Violence. kalian cukup panggil aku Charlotte. Liburan semester telah tiba. Mama dan ayah akan mengajakku berlibur ke Jepang karena nilai raporku baik.
Kami segera pergi ke bandara Juanda yang ada di Surabaya. Kami segera check-in dan naik ke pesawat.
“Wah, enak banget ya, di pesawat,” gumamku. Di masing-masing bangku ada TV-nya.
3 jam lamanya kami di pesawat dan kami segera mendarat di bandara Haneda yang merupakan bandara internasional di Tokyo. Bandara ini terletak 14 Km sebelah selatan stasiun Tokyo. Kami pun segera turun dari pesawat.
Kami pun menaiki mobil untuk mencari hotel. Di sepanjang jalan banyak kutemui bunga sakura. Aku pun minta berfoto di dekat bunga itu.
Setelah lama berkeliling, kami pun menemukan hotel yang besar dan megah. Fasilitasnya banyak dan lengkap, seperti: kolam renang, sarana olahraga, ruang makan, taman, dan banyak lagi. Kami menginap di hotel selama 2 hari. Setelah itu, kami menuju ke salah satu stasiun TV di sana. Kebetulan, disana sedang ada pertunjukkan fashion show sengan memakai kimono. Tapi, pesertanya berasal dari seluruh dunia. Sayang, Indonesia tak ada. Kami puas menonton pertunjukkan itu sampai selesai. Kami pun segera menuju ke restoran.
“Ma, memangnya kita mau makan apa sih?” tanyaku pada mama.
“Kita akan makan okonomiyaki,” jawab mama.
“Apa itu okonomiyaki?” tanyaku lagi.
“Okonomiyaki adalah makanan khas Jepang berupa pizza. Tapi ini berasal dari Jepang. Kamu pasti suka,” jelas mama. Aku hanya mengangguk.
Setelah selesai makan, kami segera pergi ke bandara dan pulang menuju Indonesia.
Saat di rumah, aku menulis pengalamanku pada buku diaryku.
Dear diary,
Aku sangat senang sekali berlibur ke Jepang. Aku juga mencoba berbagai jenis masakan Jepang. Dimana-mana kulihat bunga sakura yang selama ini hanya bisa kulihat di TV.
Tapi.. bagaimanapun aku lebih suka Indonesia akan budayanya, makanannya dan semuanya di Indonesia. Juga, tempat rekreasi di Indonesia juga sangat bagus.
Sudah dulu ya, kapan-kapan kusambung lagi.
Aku selesai menulis diary-ku. Aku menyimpannya kembali. Aku mengaku, aku lebih cinta negaraku sendiri, Indonesia
Cerpen Karangan: Rahma Aulia Arifin
Facebook: Rahma Aulia

Liburan Ke Bali

Hai, namaku Alyssa. Tadi, aku menerima rapot semester 1. Aku senang karena ranking 1. Ayah dan Ibuku sangat bangga. Maka, ayah dan ibuku mengajak aku liburan ke Bali. Kebetulan, saudara yang sudah kurindukan itu tinggal di Bali. Maka, hari ini aku bersiap-siap untuk pergi ke Bali besok.
Esok paginya, ayah dan ibuku memberitahukanku bahwa kami tidak naik pesawat. Kami naik mobil sampai Surabaya, lalu naik kapal ke Bali. Perjalanan dari rumah sampai Surabaya lama, tetapi aku tetap senang karena pemandangan yang indah.
Sampai di Surabaya, kami naik kapal. Aku memakai ‘skype video call’ lewat iPad ayahku untuk berkomunikasi bersama saudaraku, Kayla. Aku mengatakan bahwa kami sudah menuju perjalanan ke Gilimanuk. Kayla pun mengatakan bahwa ayahnya akan menjemputnya di Gilimanuk.
Sampai kami di Gilimanuk, ujung pulau Bali bagian barat, kami dijemput ayah Kayla. Aku memanggil Ayah Kayla “Paman Tito” karena nama ayah Kayla adalah Tito. Sedangkan aku memanggil Ibu Kayla “Tante Ruth” karena namanya adalah Ruth. Seperti biasanya, Bali tetap indah seperti saat terakhir kali aku ke Bali.
Sampai di rumah Kayla, Kayla langsung lari dari rumahnya dan memelukku. Sampai-sampai Kayla menangis karena sangat rindu. Kami pun masuk ke rumah Kayla dan mengobrol. “Alyssa, aku sedang membuat kue. Kita buat bersama yuk!”, ajak Kayla. “Ayuk, pantesan kamu memakai celemek.”, kataku sambil tertawa kecil.
Kami membuat chocochips cookies. Ini sama seperti good time, tetapi rasanya sedikit pahit. Tetapi aku merasa cookies ini tetap enak. Kayla mengajariku karena aku sudah agak lupa cara membuatnya. Kami pun berhasil membuatnya. Rasanya pun enak. Aku diberi setoples chocochips cookies untuk oleh-oleh. Kayla memang saudaraku yang baik.
Kami hanya dua minggu di Bali. Aku sangat sedih. Rasanya cepat sekali. Aku juga sedih meninggalkan Kayla. Tapi, aku harus menerimanya.
Sampai di rumah, aku benar benar terkejut. Ada Kayla di rumahku. Ternyata, ayah sudah merencanakan semuanya. Sisa sisa liburan ini kuhabiskan bersama Kayla. Liburan kali ini sungguh menyenangkan.


Cerpen Karangan: Develyne de Meichella
Facebook: www.facebook.com/develyne.demeichella