Rabu, 18 Maret 2015

Tersesat

Pada suatu hari yang terlalu cerah, ada dua pelajar yang bernama Yanto Ediman dan Edward Jeremi Wijaya yang sedang berjalan-jalan mencari uang di di kamar Jeremi.
“Hey Jeremi, aku menemukan uang 500 rupiah di bawah kasurmu!” Ucap Ediman dengan sangat girang setelah berjam-jam mencari uang 500 rupiah tersebut.
Akhirnya, setelah mereka membeli permen dengan uang tersebut, mereka tersasar. Mereka sedih karena tidak tahu arah jalan pulang bagaikan butiran debu. Tanpa berpikir panjang, Yanto mengajak Jeremi untuk berlari tanpa tujuan dan berharap dapat kembali ke rumah Jeremi. Mereka berlari-lari berjam-jam mengelilingi kampung sampai warga setempat terheran-heran.
“Yanto, aku sudah tidak kuat lagi!” Ucap Jeremi tersengal-sengal.
“Yah, cupu nih Jeremi, udah lah, beberapa mil lagi pasti kita akan menemukan rumahmu, kamu kan juga pemain sepak bola liga Kampung Makmur, pasti tenaganya gak habis-habis.” Bujuk Yanto pada Jeremi.
“Bumi ini memang segeda apa sih?! kayaknya kita dari tadi berjalan tak bisa menemukan rumahmu.” Ucap Jeremi dengan kesal.
“Bumi itu Planet yang besar, kayak perutmu yang bulat.” Balas Yanto pada Jeremi.
Beberapa ribu centimeter dari tempat Jeremi dan Yanto berdiri, ada seorang Satpam yang penasaran apa yang terjadi dengan kedua anak tersebut. Saptam tersebut mendatangi Jeremi dan Yanto dengan perlahan. “Kalian kenapa? Kalian orang normal kan? Apa yang kalian lakukan tengah malam begini?” Tanya satpam tersebut dengan heran.
“Kita tersesat Pak, saya tinggal di Jl. SesamaMakmurah blok. J no. 96, apakah bapak tau tempatnya?” Tanya Jeremi dengan percaya diri.
“Oh itu, kalau itu saya tau, deket kok dari sini, nanti adek ke perempatan sebelah sana terus belok kanan.” Jawab Saptpam tersebut.
“Oooo, begitu ya pak. Kalau begitu terima kasih ya sudah mau membantu kami.” Ucap Jeremi.
Akhirnya Jeremi dan Yanto pergi ke permpatan dan belok kanan. mereka sangat bahagia, bangga dan menggila karena sudah bisa kembali ke rumah Jeremi.
“Jeremi, kita sudah sampai dirumahmu, sekarang aku mau pulang, apakah kau bisa mengantarkanku? Soalnya aku tidak berani malam-malam berjalan sendiri.” Tanya Yanto.
Jeremi pun akhirnya mengantarkan Yanto kembali ke rumahnya. Setelah itu, saat perjalanan pulang, ia kembali tersesat. Ia pun menangis berjam-jam hingga warga setempat terheran-heran.
Pada keesokan harinya, Jeremi ditemukan oleh supirnya di dalam tong, sendiri dan tak ada yang menemani bagaikan butiran debu.
Cerpen Karangan: Juan Farell Haryanto
Blog: indokrefcerpen.blogspot.com
ujian peraktek

Nama ; eko .prasetio
kelas ; 9 D

Sabtu, 14 Maret 2015

Perjuangan Seorang Adik

Pada waktu dahulu hiduplah sepasang suami istri yang mempunyai dua anak yang bejenis kelamin laki-laki semua. Beberapa bulan kemudian sang istri pun meninggal dunia karena ia mempunyai penyakit yang sangat parah sehingga tidak dapat diobati dan ia pun meninggalkan kedua anaknya beserta suaminya.
Di suatu ketika ayah dari kedua anak tersebut bekerja keras dan berusaha untuk menghidupi kedua anaknya dengan cara apapun agar kedua anaknya itu bisa sekolah kejenjang yang tinggi.
Kedua anak tersebut yang bernama Ridwan dan Wawan itu satu sama lainnya saling melengkapi dan tidak pernah bermusuhan apalagi bertengkar, walaupun mereka kehidupannya amat sederhana. Ketika kakaknya yang bernama Ridwan menginjak umur 14 tahun yang baru saja duduk di kelas 2 SMP itu sedangkan adiknya yang bernama Wawan yang baru duduk di bangku kelas 5 SD. Ayah dari kedua anak tersebut sangatlah berjuang demi apapun yang penting anaknya bisa bahagia walau ia tidak perduli apa nanti yang akan tertimpa olehnya, yang sekarang ayahnya itu bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah perumahan.
Saat itu ayah mereka menimpa sebuah kecelakaan yang amat serius pada bagian kakinya yang terkena besi-besi bangunan yang sangat lumayan berat sekali sehingga kakinya tersebut harus diamputasi. Ridwan dan Wawan sangat bingung dan sedih sekali, mereka tidak tau harus bagaimana caranya agar bisa mengobati dengan secara modrn dan sedangkan mereka hanyalah keluarga yang sederhana dan untuk makan pun hanya apa adanya, apalagi untuk membiayai biaya rumah sakit dan persalinan ayahnya. Dan akhirnya mereka berfikir apakah di antara mereka harus mengalah untuk keluar dari sekolah dan tidak melanjutkannya sebab untuk mencari biaya pengobatan ayahnya. Dan akhirnya adiknya yang bernama Wawan pun ia rela keluar dari sekolah demi ayahnya yang sakit itu dan kakaknya yang ingin mengejar suatu impiannya. Wawan tidak mau melihat keluarganya menangis dan bersedih dan ia ingin membahagiakan kakaknya dan ayahnya agar bisa tersenyum gembira.
Lima tahun kemudian Ridwan dan Wawan ditinggal pergi untuk selamanya lagi oleh ayahnya yang tercinta itu dan mereka hidup hanya berdua saja. Wawan yang hanya kini keluar dari sekolahnya ia sekarang bekerja sebagai buruh panggul di pasar tradisional, dengan alasan ia ingin mewujudkan impian kakaknya itu yang ingin menjadi MANAGER PERUSAHAAN. Kini kakaknya Ridwan sekolah di vakultas kebisnisan yang dibiayai dengan hasil dari kerja keras adiknya itu.
Suatu ketika adiknya pergi meninggalkan kakaknya dengan alasan ia tidak mau memalukan kakaknya di depan teman-temannya sebab malu dengan keadaan adiknya. Dan beberapa hari, minggu dan bulan Ridwan selalu mencari-cari adiknya itu tetapi pencarian itu sunnguh tidak dapat hasil sedikitpun yang ada ia hanya salah orang saja ketika ia mencari sang adik tercintanya itu.
Disaat perjalan pulang dari sekolahnya itu Ridwan melihat Wawan adiknya yang sedang duduk di pinggir jalan sambil membawa koran dengan pakaian yang compang-camping tidak karuan, Ridwan sangat sedih hatinya terasa bersalah melihat adiknya seperti itu dan sedangkan dia di rumah makan dengan yang enak dan berkehidupan yang layak tapi kenpa adiknya seperti itu?. Lalu Ridwan memanggil adiknya “Wawannn…”, Wawan pun menoleh ke belakang tetapi bukannya ia menyaut kakaknya ia malah pergi dan lari entah kemana. Ridwan merasa ia bersalah besar kepada adiknya dan merasa bahwa ia telah menelantarkan adiknya.
Dua tahun telah berlalu dan Ridwan pun masih mencari adiknya yang kini entah kemana ia pergi dan ia tinggal. Disaat pertama kali Ridwan melihat adiknya ia langsung berteriak memanggil namanya dan mengejarnya sampai ia benar-benar mendapatkan adiknya, dan lalu Ridwan bertanya “kenapa kau selalu menghindar dariku wan?”, wawan hanya terdiam seolah ia tak mendengar pembicaraan kakaknya. “wan jawab mengapa kau seringkali menghindar ketika aku memanggil namanmu? Apakah aku bersalah kepadamu apakah kau benci padaku katakanlah wan?”, “tidak! Aku sama sekali tidak membencimu dan sama sekali kakak tidak bersalah kepadaku.” Jawab adiknya dengan muka yang kecut, “tapi kenapa kau selalu menghindar ketika aku panggil namamu?” bujuk kakaknya, “aku bersalah aku takut memalukanmu kak!” jawab dengan lesunya, “kau tidak bersalah dan kau tidak memalukan aku, tapi aku yang membuatmu merasa malu. Aku sekarang sukses itu karena mu wan, dan aku ingin kita hidup bersama lagi dan kau selalu ada di sampingku menemaniku disaat suka maupun duka bukan seperti ini yang kau selalu menghindar terus dari aku wan?” terus membujuk adiknya. Tapi Wawan terus pergi dan tak mau melhat kakanya, ia hanya ingin kakaknya bahagia tanpa seorang adik yang selalu mengganggunya dan ia ingin melihat kakaknya hidup bahagia dan sukses tanpa seorang adik yang dulu ia selalu dimarahi oleh ayahnya.
Wawan merasa bersalah pada kakaknya karena dahulu yang selalu disayang itu Wawan bukan Ridwan maka dari itu Wawan ingin membalasnya dengan mewujudkan impiannya tanpa seorang adik yang selalu membuatnya marah dan kesal. Wawan ikhlas demi apapun yang ia lakukan terhadap kakaknya itu tanpa ia melihat kehidupan ia sekarang yang menjadi buruh di pasar ataupun penjual koran jalanan.
Cerpen Karangan: Sri Puji S
Blog: http://sripujisusilawati21.blogspot.com


Nama saya sri puji s
sekarang saya duduk di kelas X
saya dari daerah cirebon – jawa barat
trimakasih

Sang Penari

“Ting tong” nada pesan diponsel BBnya berdering, sambil mendengarkan penjelasan dosen pada mata kuliah pengantar filsafat. Perlahan ia ambil BBnya. Ada pesan singkat yang membuatnya tersenyum, lucu, mungkin bahagia ‘jam 19:00 q jmput’ segera ia balas kalimat itu ‘oke’, sesaat telah terkirim, kini ia kembali pada penjelasan pengantar filsafat yang melelahkan. Dari pengantar itu ia dapat kesimpulan bahwa di dalam ilmu filsafat, ia adalah makhluk yang diberi akal.
Akal menjalankan kehendak nafsu, dan nafsu sebagian dari kebahagiaan. Ah, tentu menyenangkan, bukan sekedar aktualisasi hidup dalam kehidupan saja, paling tidak ada pemikiran rekontruksi tubuh untuk melepaskan ikatan ketergantungan terhadap alam
Adakalanya bertindak positif saja disalahkan, apalagi yang negatif, pastinya disana akan terbentur pada aturan yang meletihkan. Haha, seru juga permainan pemikiran seperti itu. Barangkali tidak begitu rumit, bukankah tangga selamanya naik?!. Ruang dan waktu merupakan lingkup materi yang dapat dikaji, maka dapat dibuktikan bahwa ini sebagai inti dari pengetahuan. Cukup seabrak pernyataan dari pertanyaan tentang diri sebenarnya siapa dan untuk apa, kenapa menjadikan begini dan begitu jawabannya.
Satu jam telah berlalu, perkuliahan disudahi bersamaan dengan matinya aliran listrik, kemas manis perjalanan mempesona, keindahan memolek ruang dimana muzaik menari nari di ujung tanduk warna. Di seberang sana terlihat bangunan menjulang tinggi.
Berhilir mudik kendaraan mewah, dari penampakan yang cukup terang. Negeri ini bernafas bunga, taman hijau tumbuh dari genangan air mata, terkordinasi dalam pamplet birahi. Dulu desas desus tersebar bahwa negeri ini merupakan negeri yang tumbuh dari kesuburan. Bahkan katanya telah dianugrakan tuhan untuk penduduknya dengan banyaknya para perempuan yang cantik jelita. Menjadikan taman kota sebagai tempat mahkota suci yang tersentuh oleh kebiadaban. Akan tetapi, kepercayaan penduduk itu terkuras lewat kemiskinan. Maka negeri itu pun kering keimanan, miskin keyakinan
Pada suatu ketika, ada seorang lelaki datang membawa berita bahwa ia dapat menyuburkan kembali negeri itu, negeri yang di diami oleh para penari.
Setelah sekian lama berdiam, lelaki itu bertamasya pada hamparan bukit. Pohon rimbun telah mengajaknya berdansa dengan malam. Gelap yang terindah, rembulan kadang menghias diri dengan purnama, cahayanya menyeruak ke seantero alam. kunang kunang bertebaran, sekali menghisap embun yang hinggap pada pori pori daun.
Burung kalilawar berpesta di atas pohon, mencari manisnya buah yang bergelantungan. Pada saat itu, kisah malam pun mulai dikunandangkan. Pelakon membaca naskah yang dikarang oleh sang waktu, desas desus tak hanya pandai bercerita. Namun juga Tak ada sebagian yang terlepas untuk diulas. Malam memang dalangnya cerita, dari rangkaian tangan melukiskan tubuh di atas kanvas yang bertaburan warna tumpah oleh nyanyian sunyi. Desahan nafas tersendat oleh gejolak birahi, bahkan malaikat pun ambil peran pada saat itu. Dan kau terlelap padanya
Ketika laki laki itu kembali, ia tersadar pada saat itu ada janji. Janji untuk menjemput kekasihnya ke suatu tempat, kekasih malam dengan polesan purnama di pipinya, bintang itu mengedipkan zona yang tidak tertulis dalam sekenario alam. Serupa blitz pada kamera kehidupan, hanya satu klik disana menggantung gambar nyata.
Kekasih malam itu kini sudah mengunggu di amperan kosannya, dengan gaun transparan, rambutnya terurai panjang, ia seakan dibiarkan bergoyang mengikuti desiran angin yang mencuri pandang. Badannya yang tinggi semampai, matanya yang lentik tidak henti hentinya memandang jalan. Kadang ia merasa lelah terhadap janji itu. Benarkah ia akan datang malam ini?
Di tangannya masih tergenggam BBnya. Mungkin disana sudah ada pesan keberadaan kekasihnya. Ah, tak ada. Kemudian menuliskan kalimat pendek “dimana, jadi ga’?” pesan terkirim selang beberapa detik. balasannya pun telah nangkring di layar alat tempat curahkan segala gejolak jiwanya. “sebentar lagi sampai” ia tersenyum mendatar.
Senyum yang ia ciptakan oleh gelap malam, gelap hati nurani bila setiap kobaran gejolak menguasai pikirannya, hanya satu dalam diri untuk mengatakan “tidak”, selebihnya alam melepaskan diri, menyerahkan semuanya kepada empunya. Halnya laut melayarkan perahu, gelombang dan angin menjadi kendali di setiap dermaga.
Gadis itu bernama tasya. Mahasiswa angkatan baru di universitas harapan, ia terlahir dari seorang sederhana. Hidupnya yang serba terbatas membawa ia pada keyakinan yang berombak, gejolak dan gelombang terlalu deras untuk mempertahankan hidup. Dimana keyakinan yang ia ketahui dan dipercayai bahwa segala sesuatu berawal dari kenyataan, kenyataan pada hidupnya memberi ruang bertindak sesuai dengan apa yang kelihatan, bahkan ia sudah meyakini itu semua
Ada satu mahkota yang blum disentuh dalam jiwanya, setiap ia mengikat kuat untuk tetap tejaga, sesuatu yang menjadikan semua mata terperangah olehnya. Paras wajahnya yang elok membuat ia berteman dengan warna. Hitam, putih, merah adalah bagian bentuk raganya. Pada keyakinan itu ada sebait doa yang selalu ia tanam, hari esok merupakan lembaran yang lepas, hari ini strukturalisme terindah. Seindah kerlip lampu taman kota, negeri penuh para penari menggoreskan tinta cinta kepada dunia
Disuatu kesempatan, gadis itu diajak teman sekolahnya waktu SMA ke suatu tempat dan di tempat itu ia memulai kehidupan baru sebagai bunga yang semerbak wanginya yang tidak habis untuk dihisap. Atas dasar kemiskinan ia melepas aktribut suci yang ia simpan dengan lautan iman. Ah, itu hal yang telah biasa terjadi pada negeri ini. Negerinya para bidadari yang telah kau suarakan sebagai negeri paling agamis. Ketakwaan pada sang pencipta semesta dan kepada yang menjadikan malam tempat dimulainya cerita mengesankan. Ceria, lara, bahagia dan juga luka.
Kini negeri itu telah menjadi dongeng yang selalu dibicarakan orang orang, seakan tak ada habis untuk terlewatkan. tidak dpat mengerti mengapa mereka tiada henti mendongeng. Sepertinya mereka ingin menikmati kedamaiannya.
Ya, Dongeng dimana perempuan sebagai mahkota yang harus dilindungi supaya kesuburan tetap terjaga. Perempuan yang melantunkan nyanyian surga. Tapi kemerlap bintang mengedipkan warna yang lebih cerah. Menampakkan polesan merah pada bibir juga betis yang putih mengudang harapan. Hanya harapan yang selalu indah dalam bayangan. Sehingga terasa sayang bila tidak ikut menanam bunga di taman, menabur harum di setiap sisi tubuh mereka dengan keringat dingin.
Tasya, gadis bertubuh indah, tinggi putih itu kini telah menyerupai bulan. ia disanjung oleh semua lelaki di kampusnya, bahkan di kota itu telah jadi pelabuhan asmaranya yang penuh getir. mereka terkulai ke dalam pelukannya yang hangat. Sebagian jadi tempat curah lelahnya. Ia merasa hidup dengan berlinang api dosa kadang menjadikan seseorang tambah dewasa.
Pencarian jati diri itu sebenarnya ketika sudah dewasa, adakala kedewasaan adalah mengerti akan kebutuhan yang otomatis sebagai sarana hidup di dunia. Apakah anda sudah dewasa? Mari dewasakan dengan kebutuhan kita pada hari ini.


Cerpen Karangan: Ali Makki
Blog: Http://alibagaskara.blogspot.com/
*ALI MAKKI, lahir di batu tanam, sambung makmur, banjar. Kini sebagai mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin, Fak. Syariah. Gaet bergabung dengan komunitas Pondok Huruf Sastra (PHS) IAIN Antasari Banjarmasin

Maaf Jangan Ditiru

Persahabatan 2 anak ini sudah cukup lama mereka jalankan, sebut saja Cetar dan Membahana, sekarang mereka duduk di bangku kelas 9, waktu itu adalah pemberitahuan jadwal pelajaran, mereka pun melihat seksama, “pa a” kata cetar dengat tiba-tiba, “apa pe a” membetulkan kata cetar yang salah, “lihat itu guru yang tidak disukai oleh kita mengajar di kelas kita”, Mereka pun pasrah walau sedikit kecewa. Ternyata mereka mendapatkan guru yang tidak disukai oleh mereka sebut saja Pak Botol namanya.
Hari dimana pak botol mengajar di kelas mereka. Cetar dan Membahana mendengarkan penjelasan Pak Botol dengan lesu, malas dan mengantuk, “Tar aku pengen pingsan aja, dari tadi ngomong terus kaya nyamuk” kata Membahana kepada Cetar, “jangan pingsan, nanti gak ada yang mau ngangkat kamu” mengejek Membahan agar tidak bosan.
Setiap pelajaran pak botol semua siswa telah dipengaruhi oleh Cetar dan Membahana yang malas untuk mendengarkan penjelasan dari Pak Botol yang tidak ada ketertarikannya sama sekali.
“gimana kalo kita beri gelar kepada bapak ini dengan julukan jubir” kata Cetar sambil tertawa, “oke” dengan lantangnya Membahana menjawab.
Pak Botol ini pun diberi gelar dengan Cetar dan Membahana yaitu gelar jubir, karena menurut mereka Pak Botol sangat kuat berbicara selama 2 jam, tanpa henti.
Setiap Pak Botol membelakangi Cetar dan Membahana, 2 sahabat ini melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dicontoh, seperti joget cesar, melempar kertas, hal-hal itu pun ternyata membuat siswa lainnya terpangaruhi dan mengikuti dengan karya berbeda-beda.
Kali ini Cetar dan Membahana mempunyai ide, setiap ada pelajaran Pak Botol mereka harus bergantian untuk membeli permen atau jajan, untuk dimakan saat pelajaran Pak Botol agar tidak bosan. Ide mereka ternyata didukung oleh teman-teman lainnya. Waktu yang ditunggu-tunggu oleh mereka, saat Pak Botol menjelaskan dan membelakangi siswa hampir semua siswa makan di dalam kelas tanpa harus ketahuan oleh Pak Botol, dengan cara yang sangat menarik contohnya cetar yang menguap lalu menutup dengan tangannya dan di dalam tangannya itu sudah disiapkan permen, lalu diemutnya hingga habis.
Hal Ini Pun Sampai Sekarang Masih Terjadi Dan Terlaksanakan!
Cerpen Karangan: Arief Gilang
Facebook: Gilang Arief
(cerpen ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan nama dan tempat saya minta maaf)
Badudu Cs adalah nama persahabatan saya.

Liburan di Jepang

Hai, namaku Charlotte Violence. kalian cukup panggil aku Charlotte. Liburan semester telah tiba. Mama dan ayah akan mengajakku berlibur ke Jepang karena nilai raporku baik.
Kami segera pergi ke bandara Juanda yang ada di Surabaya. Kami segera check-in dan naik ke pesawat.
“Wah, enak banget ya, di pesawat,” gumamku. Di masing-masing bangku ada TV-nya.
3 jam lamanya kami di pesawat dan kami segera mendarat di bandara Haneda yang merupakan bandara internasional di Tokyo. Bandara ini terletak 14 Km sebelah selatan stasiun Tokyo. Kami pun segera turun dari pesawat.
Kami pun menaiki mobil untuk mencari hotel. Di sepanjang jalan banyak kutemui bunga sakura. Aku pun minta berfoto di dekat bunga itu.
Setelah lama berkeliling, kami pun menemukan hotel yang besar dan megah. Fasilitasnya banyak dan lengkap, seperti: kolam renang, sarana olahraga, ruang makan, taman, dan banyak lagi. Kami menginap di hotel selama 2 hari. Setelah itu, kami menuju ke salah satu stasiun TV di sana. Kebetulan, disana sedang ada pertunjukkan fashion show sengan memakai kimono. Tapi, pesertanya berasal dari seluruh dunia. Sayang, Indonesia tak ada. Kami puas menonton pertunjukkan itu sampai selesai. Kami pun segera menuju ke restoran.
“Ma, memangnya kita mau makan apa sih?” tanyaku pada mama.
“Kita akan makan okonomiyaki,” jawab mama.
“Apa itu okonomiyaki?” tanyaku lagi.
“Okonomiyaki adalah makanan khas Jepang berupa pizza. Tapi ini berasal dari Jepang. Kamu pasti suka,” jelas mama. Aku hanya mengangguk.
Setelah selesai makan, kami segera pergi ke bandara dan pulang menuju Indonesia.
Saat di rumah, aku menulis pengalamanku pada buku diaryku.
Dear diary,
Aku sangat senang sekali berlibur ke Jepang. Aku juga mencoba berbagai jenis masakan Jepang. Dimana-mana kulihat bunga sakura yang selama ini hanya bisa kulihat di TV.
Tapi.. bagaimanapun aku lebih suka Indonesia akan budayanya, makanannya dan semuanya di Indonesia. Juga, tempat rekreasi di Indonesia juga sangat bagus.
Sudah dulu ya, kapan-kapan kusambung lagi.
Aku selesai menulis diary-ku. Aku menyimpannya kembali. Aku mengaku, aku lebih cinta negaraku sendiri, Indonesia
Cerpen Karangan: Rahma Aulia Arifin
Facebook: Rahma Aulia

Liburan Ke Bali

Hai, namaku Alyssa. Tadi, aku menerima rapot semester 1. Aku senang karena ranking 1. Ayah dan Ibuku sangat bangga. Maka, ayah dan ibuku mengajak aku liburan ke Bali. Kebetulan, saudara yang sudah kurindukan itu tinggal di Bali. Maka, hari ini aku bersiap-siap untuk pergi ke Bali besok.
Esok paginya, ayah dan ibuku memberitahukanku bahwa kami tidak naik pesawat. Kami naik mobil sampai Surabaya, lalu naik kapal ke Bali. Perjalanan dari rumah sampai Surabaya lama, tetapi aku tetap senang karena pemandangan yang indah.
Sampai di Surabaya, kami naik kapal. Aku memakai ‘skype video call’ lewat iPad ayahku untuk berkomunikasi bersama saudaraku, Kayla. Aku mengatakan bahwa kami sudah menuju perjalanan ke Gilimanuk. Kayla pun mengatakan bahwa ayahnya akan menjemputnya di Gilimanuk.
Sampai kami di Gilimanuk, ujung pulau Bali bagian barat, kami dijemput ayah Kayla. Aku memanggil Ayah Kayla “Paman Tito” karena nama ayah Kayla adalah Tito. Sedangkan aku memanggil Ibu Kayla “Tante Ruth” karena namanya adalah Ruth. Seperti biasanya, Bali tetap indah seperti saat terakhir kali aku ke Bali.
Sampai di rumah Kayla, Kayla langsung lari dari rumahnya dan memelukku. Sampai-sampai Kayla menangis karena sangat rindu. Kami pun masuk ke rumah Kayla dan mengobrol. “Alyssa, aku sedang membuat kue. Kita buat bersama yuk!”, ajak Kayla. “Ayuk, pantesan kamu memakai celemek.”, kataku sambil tertawa kecil.
Kami membuat chocochips cookies. Ini sama seperti good time, tetapi rasanya sedikit pahit. Tetapi aku merasa cookies ini tetap enak. Kayla mengajariku karena aku sudah agak lupa cara membuatnya. Kami pun berhasil membuatnya. Rasanya pun enak. Aku diberi setoples chocochips cookies untuk oleh-oleh. Kayla memang saudaraku yang baik.
Kami hanya dua minggu di Bali. Aku sangat sedih. Rasanya cepat sekali. Aku juga sedih meninggalkan Kayla. Tapi, aku harus menerimanya.
Sampai di rumah, aku benar benar terkejut. Ada Kayla di rumahku. Ternyata, ayah sudah merencanakan semuanya. Sisa sisa liburan ini kuhabiskan bersama Kayla. Liburan kali ini sungguh menyenangkan.


Cerpen Karangan: Develyne de Meichella
Facebook: www.facebook.com/develyne.demeichella

Liburan ke Solo

Halo, namaku Fanny. Aku tinggal di Jakarta. Aku anak tunggal, dan aku mempunyai rambut keriting lebat atau disebut juga “Kribo”. Ayah dan ibuku mengatakan bahwa itu anugrah. Padahal, di keluargaku tak ada yang berambut seperti aku. “Ayah dulu suka Ahmad Albar. Mungkin karena itulah kamu rambutnya seperti itu.”, kata papa. Aku anak kelas 6 dan umurku 11.
Yey! Hari ini pengambilan rapot! Aku tetap juara 1 seperti kelas 5. Aku ingin menagih janji mama papa. “Mama, papa, inget kan janji mama papa kalo aku tetap juara 1?”, tanyaku. “Ya ampun Fanny, hape sudah punya, laptop sudah punya, mau apa lagi?”, mama kembali bertanya. “Hmm… Aku.. pengen liburan ke Korea”. Mama dan papa pun berpandangan. “Kamu serius?”, Tanya papa. Aku menganggukkan kepala. “Tidak bisa, Fanny.”, kata mama. “Tapi kenapa?”, Tanyaku sambil marah. “Itu diluar pemikiran kami, Fanny.”, jawab papa. “Tapi kan papa dan mama udah janji bakal turutin keinginanku.”, bantah Fanny. “Lagipula, papa dan mama kan tidak punya uang.” Aku hanya menundukkan kepala.
“Lagipula, papa akan mengajakmu ke tempat yang lebih seru. Kamu sudah lama ke sana.”, kata papa lagi. “Ke mana?”, tanyaku. “Ke Solo.”, jawab papa. “Apa? Ke Solo? Tempat nenek tinggal dong!”, kataku kaget. “Iya. Memangnya kenapa? Kamu tidak rindu pada nenek?”, Tanya mama. “Ya kangen sih…”, jawabku. “Besok kita berangkat pukul delapan pagi.”, kata papa. “Kok mama papa gak ngomong dari awal sih? Kan kalo dari awal, aku bisa membereskan barangku dari jauh hari.”, kataku. “Sekarang, kamu bereskan barang-barangmu.”, kata mama mengalihkan pembicaraan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menuruti apa kata mama dan papa.
Kalian tahu? Aku kecewa. Aku benci ke Solo karena banyak yang mengejekku tentang rambutku. Aku juga kurang suka di Solo. Ya tapi mau bagaimana lagi. Kalau aku membantah, maka aku dibilang menghina. Jadi aku harus mengikuti apa kata mereka.
Esok harinya di perjalanan, aku memakan cookies dan membaca komik “Naruto”. Oh ya, aku suka naruto lho. Tetapi lama-lama aku bosan juga. Maka aku main iPad milik papa. Tiba-tiba mobilku berhenti. “Kenapa berhenti?”, tanyaku. “Kita kan sudah sampai di Solo.”, kata papa. “Lumayan cepat ya…”, kataku. “Ya itu karena tadi kamu sibuk sendiri membaca Naruto.”, kata mama.
“Tapi, kenapa tempatnya seperti ini? Lebih indah dari terakhir ke sini?”, tanyaku. “Oh ya. Papa lupa memberitahukanmu. Sekarang, nenek pindah rumah. Rumahnya ada di dekat kebun. Ini adalah kebun nenek.”, jawab papa. Tiba-tiba, banyak orang yang mengerumuni kami. Banyak yang menyalami papa dan mama. Beberapa orang menyalamiku juga sih. “Hahaha… Lama tak bertemu Kakak Kribo.”, kata anak-anak disana. “Makin lebat saja!”, kata mereka sambil terkikik. Aku menghiraukannya. Aku pun masuk ke rumah nenek.
“Wah, cucu nenek sudah datang…”, sambut nenek. “Iya nek.”, jawabku. “Fanny!”, seru Via dan Siti. “Via! Siti!”, jawabku. Kami pun berpelukan. Via dan Siti adalah sepupuku. Via beragama Hindu, dan Siti beragama Islam. “Sudah lama ya kita bertemu.”, kata Via. “Kita jalan-jalan yuk!”, ajak Siti. Kami pun jalan-jalan menggunakan sepeda.
“Oh ya. Kita berenang di sungai yuk!”, seru Via. “Ayuk, aku mau mengganti bajuku dulu ya.”, kataku. “Buat apa?”, Tanya Siti. “Ya mau pakai baju renang lah.”, jawabku. “Wah, Fanny hebat! Pakai baju renang!”, seru Siti. “Ya kalau di kota kan harus pakai baju renang.”, kataku. Mereka tinggal di Solo bagian desa. Jadi, mereka tidak sepintar orang kota.
Kami pun pergi ke sungai. Aku suka sekali berenang. Kami main air sepuasnya. Sungainya pun bersih. “Kamu senang sekali main air di sungai. Kayak tidak pernah main di sungai saja.”, kata Via. “Memang tidak pernah.”, jawabku. “Hah? Masa di kota tidak ada sungai?”, kata Siti. “Ada, tapi tidak bersih.”, ujarku.
Kami pun menikmati Solo yang indah ini. Tak terasa aku harus kembali ke Jakarta. Aku pun sedih. Aku meminta kepada papa agar Via dan Siti diberikan handphone. Ayah pun membelikannya. Aku sangat senang karena jika mereka mempunyai handphone, aku bisa berkomunikasi dengan mereka.
Tak terasa kami sudah 2 minggu di Solo. Kami harus pulang. Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan buatku. Sampai jumpa Solo! Tunggu aku di liburan selanjutnya!
Cerpen Karangan: Develyne de Meichella
Facebook: www.facebook.com/develyne.demeichella

Paspor Pertama dan Terakhirku

Tak ada semburat cahaya yang masuk melalui jendela kaca kamarku sepeti biasanya pagi ini. Mentari yang selalu membuatku terbangun pun masih mengurungkan niatnya untuk keluar dari cakrawalanya. Entah karena ini adalah efek dari pergantian musim atau memang karena aku yang terbangun terlalu buta. Aku tidak tau.
Kukumpulkan nyawaku setelah kudengar kicauan burung yang seakan menyapaku dan kulihat bayangan embun menghiasi pucuk dedaunan -pada tanaman hias yang selalu kuletakan di depan jendela kaca kamarku- seraya meyakinkanku bahwa pagi ini telah tiba. Namun rasa kantuk masih menyerangku. Mungkin karena memang aku tidak terbiasa terbangun sebuta ini. Sungguh susah memang menghilangkan kebiasaan begitu saja tanpa proses. Terlebih lagi ini adalah musin dingin -musim dimana kita bisa tetap terjaga di bawah selimut tebal dengan balutan sweater untuk memperhangat tubuh. Apapun alasannya. Termasuk untuk alasan pagi ini yang memaksaku bangun lebih awal dari biasanya. Walaupun aku sadar bahwa hari ini berbeda. Dan… spesial. Aku terduduk di tepi ranjangku. Terdiam.
Desa Bibury, perbukitan Costwold, Inggris Adalah salah satu desa kecil yang dibangun sekitar abad ke-17. Desa ini selalu memperlihatkan keindahan alaminya. Diselimuti oleh ketenangan. Rerumputannya pun selalu terlihat mempesona dan memanjakan mata. Desa ini terletak di barat daya Inggris. Jauh dari pemandangan gedung pencakar langit. Desa ini pula yang mendengar tangisan pertamaku dan menjadi tempat persinggahan hidupku hingga detik ini. Aku menyukai desa ini sejak kali pertama dunia menyapaku. Terlebih desa ini pula yang mempertemukanku dengan empat orang anak yang selalu menjadi salah satu alasanku mengapa aku mampu betahan hingga sekarang termasuk alasan utama mengapa aku bangun sepagi ini – aku menyebut mereka sahabat.
Dua minggu yang lalu Ariella, Griselda, Cordelia, Prasiya -sahabatku. Dan aku, berkumpul seperti biasa di kamar Cordelia. Hal ini adalah salah satu dari kebiasaan rutin kami untuk menyambut liburan musim dingin. Tepat dua minggu sebelum liburan tiba kami selalu merencanakan sesuatu untuk merayakan liburan musin dingin. Seperti siang ini. Entah hanya sekedar camping di halaman belakang, menginap dan mengobrol hingga pagi pun tiba, mengelilingi taman bahkan berjalan ke kota-kota kecil. Takkan ada kata absen untuk hal ini. Terlebih aku merasa liburan kali ini berbeda.
Kami pun berunding tujuan manakah yang akan menjadi pengisi liburan kali ini. Aku suka perundingan semacam ini. Terlebih bersama mereka yang selalu membuatku merasa hangat sekalipun cuaca tak bersahabat. Tiga jam kami berunding namun masih belum ada tujuan yang memikat. Tiba-tiba aku teringat brosur yang dibawa mamah beberapa hari lalu. Brosur itu mengiklankan suatu tempat. Entah mengapa bosur itu menarik perhatianku. Aku pun berteriak “INDONESIA!!!” saat itu pula mereka menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa kusadari perlahan mereka tersenyum. Dan kami pun saling lirik kemudian serentak mengucapkan kata “TEPAT” bersama. Kami berpelukan layaknya teletubis yang lama tak berjumpa.
“Aura, turun. Sarapan sekarang. 15 menit lagi kita berangkat.” Tiba-tiba suara Mamah menyadarkanku dari lamuman. Aku pun tesentak karena terkejut oleh suara sang mamah. Tanpa sadar, ternyata lamumanku pagi ini cukup lama. Sebab mentari yang kusangka takkan keluar dari tempat pesembunyiannya itu pagi ini telah mempelihatkan senyumannya. Sangat lebar. Kepadaku. Tiba-tiba rasa hangat menyelimuti tubuhku terlebih hatiku. “iya mah.” Aku pun mengganti pakaian yang telah kusiapkan sejak malam tadi. Rapi namun santai dan tebal. Aku menuruni tangga dan berjalan ke ruang makan. “semuanya sudah siap?” mamah pun meyakinkanku agar aku benar-benar telah menyiapkan semuanya. Kujawab dengan anggukkan antusiasku dan senyuman yang memperlihatkan deretan gigi-gigiku pagi itu. “termasuk paspor?” Tanya mamah. Yap… Paspor? Tanyaku dalam hati.
Paspor? Nama itu mengingatkanku dengan kejadian dua minggu yang lalu. Nama yang hampir mengurungkan niatku untuk berlibur. Nama yang membuatku tak semangat pula melanjutkan liburanku. Karena hal yang paling tidak kusukai adalah hal yang paling indentik dengan pembuatan paspor – Menunggu. Iyap. Menunggu adalah hal yang paling tidak kusukai. Dengan begitu membuat paspor berarti aku harus melakukan hal yang tidak kusukai.
Setelah Indonesia menjadi pilihan kami untuk tujuan berlibur kali ini hal yang memenuhi pikiranku hanyalah ‘bagaimana bisa aku harus menunggu pembuatan paspor?’ walaupun aku tahu Indonesia adalah pilihanku namun aku tak mengingat bahwa Indonesia bukanlah bagian dari Inggris. Tiba-tiba aku mengurungkan niatku. Namun mereka – Ariella, Griselda, Cordelia dan Prasiya membujukku. Terus membujukku. Walaupun pada awalnya pendirianku tak runtuh. “Naura, kamu itu enggak menunggu sendiri. Kamu itu menunggu bersama. Bersama kita. Jangan takut.” Namun perkataan Griselda perlahan meruntuhkan pendirianku. “Selda benar Ra, kamu enggak usah takut. Please demi kita. Aku ingin liburan kali ini berbeda Ra, aku ingin liburan kali ini spesial.” Tambah Prasiya dengan anggukkan mereka. Kali ini benar-benar meruntuhkan pendirianku. Hening. Tak ada suara apapun. Termasuk jawabanku yang sedang mereka nantikan. Akhirnya kuanggukan kepalaku perlahan namun pasti. Sedetik kemudian jeritan kebahagian terdengar memenuhi kamar cordelia. Aku pun tersenyum. Entah apa yang mendorongku untuk menganggukkan kepala. Namun ada hal yang benar-benar mendorongku saat itu – Harapan. Suatu harapan yang terpendamlah yang benar-benar mendorongku saat itu. Harapan untuk membuat suatu kenangan yang mungkin menjadi yang terakhir untukku bersama mereka. Hanya itu.
Akhirnya keesokkan paginya setelah pulang dari college kami – Ariella, Griselda, Cordelia, Prasiya dan Aku pergi ke kantor imigrasi untuk mengambil formulir pembuatan paspor. “Maaf sebelum mengisi formulirnya kakak-kakak harus menyiapkan KTP, KK (Kartu Keluarga), akta kelahiran dan ijazah. Kalau bisa siapkan fotocopynya dan aslinya juga.” Perintah salah satu petugas imigrasi. “Asli? Untuk apa, Pak?” Tanya Ariella mewakili kami. “Asli untuk dibawa ketika wawancara sedangkan copynya untuk dilampirkan.” Jelas si Petugas “Oh iya, setelah formulir diisi langsung dikumpulkan saja. Nanti untuk foto wawancara dan sidik jari akan kami kabarkan lagi.” Tambah petugas tersebut. “Kira-kira berapa hari lagi, Pak?” tanyaku cepat, sebab hanya aku yang mempunyai tingkat kesabaran terendah untuk hal tunggu-menunggu. “Tidak lama, sekitar 4 hari setelah pengumpulan formulir.” Jawabnya dengan sabar dan tenang. “Terima kasih, Pak.” Jawab Deli mewakili kami.
Hari yang ku tunggu pun tiba – 4 hari setelah pengumpulan formulir. Kami kembali ke kantor imigrasi sepagi mungkin agar mendapakkan nomor antrean terendah untuk foto dan wawancara. Dan berhubung latar belakang foto berwarna putih kami pun disarankan untuk tidak menggunakan baju yang berwarna putih dan contact lensa karena retina mata tidak akan terekam. Kami pun mengikuti semua saran yang dianjurkan petugas tersebut agar tidak menghambat proses foto.
Wawancara pun tidak ada yang penting hanya basa-basi. Berbicara mengenai dokumen dan data yang kami berikan dan alasan mengapa kami membuat paspor. Kami pun menjawab sejujurnya dan apa adanya. Sehingga prosesnya pun tak lama. Paspor pun dapat kita ambil kembali sekitar 4 hari kemudian. Dan sekarang paspor itu ada di tanganku. Menjadi milikku.
“Nau? Hey Naura? Sayang?” (sembari melambai tangan di depan mataku) lagi-lagi suara mamah yang menyelamatkanku dari lamunan. Aku tak sadar. Ternyata sedari tadi mamah memanggil namaku. Sepertinya aku cukup lama terlarut dalam lamumanku sehingga tak mendengar panggilan mamah. Aku menghadap ke samping untuk melihat beliau. Aku tersenyum. Ternyata hal yang aku anggap buruk selama ini – Menunggu. Akhirnya membuahkan hasil juga.
Mamah mengelus bagian belakang rambutku menandakan bahwa beliau ingin mengatakan sesuatu yang mungkin saja penting. “kamu enggak akan lupa sama janji kamu kan, Nak?” Tanya beliau perlahan namun tegas. Sorotan matanya begitu teduh. Aku selalu menyukai mata hijau itu. Janji? Janji apa yang pernah kulontarkan? Aku punya janji? Dengan mamah? Apa?. “kamu lupa?” pertanyaan sang Mamah seakan bisa membaca semua pertanyaan dalam benakku. Oh iya. Aku lupa. Aku punya janji dengan beliau. Memang. Janji yang kuucapkan agar mendapatkan persetujuan mamah untuk berlibur. “Iya, Mah. Aku ingat.” Aku tersenyum lalu kembali melanjutkan sarapanku. Setalah sarapan selesai dan semuanya siap Mamah mengantarkanku ke rumah Ariella – tempat kami berkumpul untuk menuju ke Bandara.
Perjalanan menuju bandara dari rumah Ariell hanya membutuhkan waktu dua jam. Namun menurutku itu adalah dua jam terlamaku. Mungkin hanya perasaanku saja karena tingkat kesabaranku semakin menipis. Terlebih lagi aku harus menghabiskan waktuku di dalam pesawat selama 13 – 14 jam untuk sampai di Indonesia. Karena jarak antara Indonesia-inggris sekitar 12.000 km. Aku memilih Indonesia karena aku tahu bahwa Indonesia mempunyai kekayaan yang luar biasa terhadap alamnya terlebih alam bawah lautnya. Jadi banyak hal yang ingin kulakukan ketika berlibur di sana seperti halnya diving, snorkeling untuk benar-benar mengetahui keindahan alam bawah lautnya atau sekadar berjalan-jalan di sekeliling pantai. Atau bahkan hanya menjajakan dagangan yang terjual di sekitarnya. Semua akan kulakukan bersama dengan sahabatku. Aku yakin ini tak akan terlupakan. Aku harus membuat kenangan itu sebelum terlambat.
Seminggu kemudian kami pun kembali ke Bibury, Inggris. Dengan senyum yang terlukis menghiasi wajah kami. Dugaanku tepat. Harapanku terwujud. Mimpiku nyata – menghabiskan liburan yang mungkin menjadi hal terakhir yang kulakukan dengan sahabatku. Karena setelah liburan itu berakhir aku menetapkan janjiku yang kubuat dengan mamah. Menjalankan Embolisasi – Embolisasi itu adalah tindakan yang diambil para Dokter untuk menangani pasien yang mengidap penyakit Aneurisma yang sudah dalam kondisi parah. Penanganannya dengan cara memasukan bahan-bahan tertentu ke dalam aliran darah untuk pengobatan sumbatan pembuluh darah.
Sudah hampir 3 tahun Aneurisma menemaniku. Aneurisma adalah kelainan pembuluh darah di otak karena lemahnya dinding pembuluh darah dan dinding pembuluh darah tersebut tidak mampu menahan tekanan darah yang relatif tinggi. Awalnya aku tak mengerti mengapa aku mengidapnya. Namun Dokter menjelaskan bahwa ini bisa terjadi karena adanya faktor keturunan. Ternyata benar, dulu papaku memang mengidap penyakit ini kata mama. Aku mampu menjalankan Embolisasi tersebut. Namun beberapa hari setelahnya takdir berkata lain, kecelakaan kecil terjadi yang membuat pembuluh darah tersebut pecah.
Kini aku mengenang semuanya di dalam surga. Aku pun percaya mereka akan mengenangnya di dunia. Naura Lavina Annaila nama yang tertinggal kini telah bahagia.
Cerpen Karangan: Vira Anggraeni Putri
Facebook: Vira Anggraeni

Perjalanan ke Kota Tua

Bulan kemarin kami sedang jalan-jalan di Kebun Raya Bogor karena kami pecinta Traveling dan terpikirlah acara jalan-jalan selanjutnya kami akan pergi ke Kota Metropolitan Jakarta tepatnya di kawasan wisata Kota Tua atau yang biasa disebut dengan Kotu. Setelah perencanaan selama 1 bulan akhirnya tiba lah waktunya kita berangkat ke Kotu, dari Bogor kami cuman membawa persiapan yang paling terpenting saja yaitu modal nekat dan UANG.
Kita kumpul di Ciawi jam 8, tapi kenyataannya malah pada lebih dari jam 9, itu lah kami, kalau disuruh kumpul jam 8 pasti kita jam segitu berangkat dari rumahnya namanya juga orang Indonesia selalu ngaret (alias jam karet) hehehe. Karena perjalanan menuju Ciawi lumayan jauh dari rumah, Saya, Ela, dan Apit kejebak macet di Caringin, akhir-akhir ini Caringin bikin macet kendaraan karena jembatan Caringin ambruk, maka sedang dalam perbaikan tapi tetap saja sudah sekitar 3 bulan dari ambruknya jembatan lalu diperbaiki belum selesai juga, padahal di jalur sebelah kanan sudah diperbaiki, tapi malah ambruk lagi karena sering dilalu-lalang oleh mobil truk-truk besar, entah lah sampai kapan perbaikan jembatan selesai.
Untungnya saya mengantisipasi kemacetan, berangkat dari rumah jam 8 kurang, jadi saya tidak terlalu kejebak macet hehe, setelah setengah jam lebih sampai juga di Ciawi ternyata sudah ada Ayu yang datang duluan karena jarak rumah Ayu ke Ciawi dekat cuman beberapa menit.
Sambil menunggu yang belum datang kita ngobrol-ngobrol aja dulu, galau-galauan gitu kan lagi zaman galau sama pacar, setelah ngobrol curhat-curhatan panjang lebar hampir lupa sama Apit dan Ela.
“sudah mau setengah 9 ni yu gak terasa kita ngobrol”, kata ku,
“hemmm, iya juga yahh, Ela sama Apit sudah sampai mana ya?”,
“aduh gak tau juga yu gak ada sms dari mereka”.
“ada sms ya ke Ayu, dari Milah”
“apa yu isi smsnya?”
“katanya dia mau ikut ke Kotu”
“bagus kalu begitu, kan jadi tambah rame”,
“tapi dia baru mau ganti baju ya,”
“ya sudah yu kita tunggu saja dia, dekat ini kan rumahnya Milah ke Ciawi?”
“iya juga, untung kita belum berangkat ya kalau sudah berangkat kan kasian juga Milah”.
Untung nya kita belum berangkat, jadi Milah bisa ikut, sementara Ayu smsn sama Milah, saya fokus memperhatikan jalan raya melihat mobil angkutan yang berhenti barangkali ada Ela dan Apit yang turun, ternyata mereka tidak ada di sekitar jalan sambil nunggu mereka main game Angry Bird saja di hp habisnya mereka lama banget, lagi asik-asiknya main game tiba-tiba di belakang ada yang menepuk pundak saya, karena kaget banget hampir saja hp saya jatuh untung ke tangkap lagi, mereka berdua memang jail.
“hey kalian, sudah lama ngagetin pula hampir saja jantung sama hp mau jatuh ni hehe,”
“hahaaa sekali-kali ngagetin orang dong,” jawab Apit.
“kurang asem lu Pit,” cetus ku.
“ya iyalah orang gue manis hahaha”
“hahaa gak nyambung lebay lagi,”
Tidak lama setelah Apit dan Ela datang, beberapa menit kemudian Milah juga datang. Nah, setelah semuanya (Saya, Ayu, Ela, Apit dan Milah) kumpul di Ciawi, kita selanjutnya naik Bus yang jurusan nya ke Kampung Rambutan cuman bayar ongkos Rp. 8000/orang. setelah kita sampai di Kampung Rambutan, kita naik Busway Transjakarta dengan harga tiket Rp. 3500/orang. Karena kita baru pertama kali nya naik Busway kita tidak tau pemberhentian mana yang langsung sampai menuju Kota Tua. Tanpa tanya sana sini akhirnya kita nyampe tepat di pemberhentian terakhir transjakarta yaitu Harmoni dekat di Kawasan Kota Tua.
Akhirnya sampai juga di Kota Tua hihihihi serasa seneng-seneng deh, banget pokoknya bangga juga ke Jakarta ngecer, biasanya juga kan jalan-jalan nya ikutan di Sekolah yang cuman tau duduk terus sampai.
Setelah turun dari Busway kita jalan menuju Kotu, tapi kita masih kebingungan sebenarnya Kotu itu dimana nya. Saya kira Kotu tuh kaya Kebun Raya Bogor yang tempat wisata nya berada di dalam pagar, ternyata bukan, Kotu itu adalah kawasan Kota Tua yang di dalam kawasannya terdapat berbagai macam bangunan-bangunan yang sudah tua salah satu nya ada Museum Mandiri, Museum Fatahilah, Museum Wayang, Museum Keramik dan lain sebagainya.
Setelah kita tau pertama yang kita tuju adalah Museum Mandiri, pertama kami kira masuknya bayar padahal gratis. Di Museum Mandiri banyak terdapat sejarah-sejarah bank Mandiri, ada alat-alat yang biasa adanya di bank, ada patung-patung nya juga dan tidak tau ada apa lagi, karena saya tidak begitu memperhatikannya, karena fokus foto-foto sama teman-teman narsis dikit hehe.
Selanjutnya kita ke area Museum Fatahilah, disana banyak banget yang jualan, ada yang jualan makanan seperti kerak telor, ayam bakar, ada es cendol juga. Ada juga yang jualan tas, baju, sendal, sepatu pokok nya banyak banget. Karena ingin punya kenang-kenangan dari Kotu kami membeli baju yang bertulisan Jakarta.
Saya, Apit dan Milah jalan-jalan terus menuju meriam depan Museum Fatahilah, sedangkan Ayu dan Ela mereka tertinggal. Karena kita bertiga malas nyari itu anak dua, akhirnya kita bertiga foto-foto di dekat meriam, dan ternyata ada orang yang saya kira itu patung padahal bukan, kita juga tidak mau meninggalkan momen lucu ini, kita pun foto-foto sama patung boongan ini, tapi kita harus bayar kalau mau foto sama si patung boongan, tenang saja tidak mahal, tapi seikhlasnya saja.
Waktu sudah sore, kita menyempatkan waktu ke Mushola, setelah ke Mushola kita berangkat lagi menuju Bogor untuk pulang. Kami naik Busway Transjakarta lagi, karena kami tidak tau harus turun dimana lagi agar sampai Kampung Rambutan kami malah turun di dekat Mall. Waktu sudah sekitar magrib, kami shalat dulu, terus kami beli oleh-oleh buat orang rumah.
Karena kami belum sampai Kampung Rambutan, kami bingung harus naik angkutan apa, setelah bertanya akhirnya kami naik Kopaja, terus kami turun lagi, karena masih bingung juga di sebelah mana terminal Bus Kampung Rambutan kita naik angkutan dan ternyata kata penumpang lain padahal kita tidak usah naik mobil lagi, terminal Bus tinggal nyebrang saja tadi, aduh aduh nasib deh kita malah buang-buang ongkos, ya sudahlah nama nya juga pengalaman hehee.
Akhirnya kami naik Bus menuju Ciawi, kami kelelahan, panas, berkeringat campur jadi satu, kebayang gak tuh gimana badan kita pada lengket-lengket. Sampai sudah di ciawi kita naik angkutan lagi menuju pulang ke rumah masing-masing, mana hujan, kejebak macet pula, aduh pusing lah, tapi di balik itu semua saya dan kawan-kawan senang bisa sampai di tempat tujuan dan pulang dengan selamat.
Cerpen Karangan: Tia Agustina
Blog: www.iyayimut.blogspot.com

Ikatan Indah Ikatan Persahabatan

Inilah hari yang kami tunggu, hari dimana kami akan melakukan perjalanan melukiskan sepotong kehidupan yang menyenangkan. Pagi yang cerah, indah tersaput gumpalan awan putih, seolah langit pun mendukung petualangan kami.
Saling tunggu-menunggu… satu dengan yang lain. Oke, kita berkumpul di jembatan sitinggil tepat jam 9 ya. Janji tinggal janji. Sekitaran jam 10 kami telah berkumpul, di rumah Teguh. Namun si empu pemilik rumah telah dibujuk, namun apa daya tetap tak mau ikut. Akhirnya hanya kami bertujuh yang ikut.
Perjalanan yang menyenangkan, melihat kendaraan-kendaraan melesat saling mengejar waktu untuk tepat sampai tujuan. Melihat rumah-rumah penduduk. Melihat pepohonan. Cukup mengusir penat di hati.
“Nanti mampir ke rumah sakit Fatimah dulu ya? Pas berangkat atau pas pulang saja?” kata Rani.
“Lebih baik, pas berangkat aja” kata Shofia…
Yang lain juga sepakat.
Akhirnya kami tiba di rumah sakit, Rani dan Atun yang ke dalam rumah sakit. Siapkah yang dijenguk? Entahlah tak tau, yang pasti seseorang yang spesial bukan?
Si Ketua pergi menemani Ilham untuk mengganti ban motornya. Tinggalah Datu, Shofia dan Ami yang ada di tepi jalan. Menanti berkumpul kembali.
“Aku haus, minum dulu akh” kata Datu.
“Aku minta, aku juga haus, kawan” kata Ami.
“Shof, kau juga mau minum”?
“Iya, aku juga haus”
Romantis sekali bukan? 1 botol minum untuk bertiga.
Pikiran jahil merengkuh otak kami. Kami memutuskan pergi ke tempat Ketua dan Ilham. Meninggalkan Rani dan Atun. Sungguh menyebalkan bukan? Saat kau tahu temanmu tak ada di situ. Bahkan pikiran jahil Datu mengatakan biar mereka naik bus saja pulangnya.
Kring… kring… yang dikerjai akhirnya menyadari bahwa kawan-kawannya telah tak ada di tempat mereka tadi menunggu. Rani sms Shofia. Kami pun segera menuju tempat semula dan segera melanjutkan perjalanan.
Kami saling memacu kendaraan. Satu sama lain. Saling menyelip dan terselip.
Setelah 2 jam lebih waktu perjalanan, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Pantai Widara Payung, yang terletak di Kroya. Indah ciptaan Mu. Debur ombak menderu-deru, bernyanyi riang, nyanyian alam yang indah. Walau mentari cukup terik panasnya, kami tetap senang. Berfoto bersama. Saling berpose, bak model papan atas. Berlarian di tepi pantai, Saling bekejaran. Membuat jejak-jejak kaki di pasir pantai.
Melihat pantai yang lapang, melihat deburan ombak, melihat kaki langit, sungguh menyenangkan. Cukup membuat hati yang sedang galau menjadi ceria.
Kami memutuskan pulang setelah puas menikmati keindahan alam ciptaan Sang Maha Kuasa.
“Bagaimana kalau nanti kita pulangnya mampir ke Teluk Penyu?” kata Shofia.
Yang lain menyahut… “setujuuuuu…”
Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Teluk Penyu. Menyenangkan melihat pantai, melihat deburan ombak. Ternyata rasa lelah kami hilang sudah saat samapi di Teluk Penyu. Berfoto-foto, yup itulah kegiatan yang tanpa sadar tak mungkin terlupakan. Saling berpose, bak model di TV.
Waktu melesat seperti anak panah, waktu tak tersa telah di penghujung hari. Merah saga telah tergurat di langit. Kami memutuskan pulang. Namun hei rinai-rinai rintik hujan mulai menyapa. Semoga tak hijan deras. Alhamdulillah hanya rinai-rinai.
Perjalanan yang menyenangkan. Semoga suatu saat nanti dapat terulang. Dan semoga semua teman sekelas dapat terkumpul semua. Seperti dahulu kala. Di kelas IPS 3. Caredocs. di kelas itu, sejuta kenangan terukir indah. Air mata, emosi, senyum, sedih, haru terbingkai menjadi satu. kita sahabat selamaya.


Cerpen Karangan: Rahmi
Facebook: Adhe Amii

Cerita Yang Tak Berujung

Pada zaman dahulu kala hidup seorang Raja yang bijaksana, baik dan suka membantu rakyatnya. Salah satu kegemaran Raja ini ialah suka mendengarkan orang bercerita. Raja sudah sering kali mendengarkan cerita dari ahli-ahli istana yang bisa bercerita dan Raja pun menjadi Bosan.
Seminggu berlalu…
Ketika Raja dan para permaisurinya sedang berkumpul di Balkon kerajaan, Raja mendapat ide. “Barang siapa yang bisa bercerita yang tak berujung, akan aku beri hadiah, namun jika cerita itu berakhir dan ada ujungnya maka ia akan saya masukkan ke dalam penjara” tegas Raja. Semua yang ada di tempat itu pun terkejut akan kemauan Raja. “Tapi yang mulia bagaimana caranya?” tanya Prajurit kerajaan. “Pikirkan sendiri!” kata Raja seraya meninggalkan mereka di Balkon kerajaan.
Keesokan harinya para Prajurit kerajaan sibuk membagikan selembaran pengunguman.
AYO IKUTI SAYEMBARA DARI RAJA
Barang siapa yang bisa menceritakan
cerita yang tak berujung akan diberikan hadiah.
Sedangkan yang ceritanya berakhir akan dimasukkan
ke dalam penjara bawah tanah.
Note: pendaftaran di taman kerajaan
Berduyun-duyun masyarakat mendaftarkan diri. Siang.. menjadi.. sore.. dan sore pun menjadi.. malam. Sudah terdaftar 2000 orang.
Keesokan harinya para peserta akan mengambil nomor urut. Dan ketika itu, para Prajurit kerajaan menegaskan bahwa yang ceritanya berakhir maka ia akan dimasukkan ke dalam penjara seumur hidup!. Akhirnya dari 2000 yang mendaftar hanya ada 100 yang tersisa.
Seminggu berlalu.. akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Acara itu dilaksanakan di Ballroom kerajaan. “Peserta pertama masuk!” kata Prajurit kerajaan. Setelah 3 hari ceritannya pun berakhir. Peserta kedua, ketiga, keempat, kelima, sampai peserta ke-99 pun ceritanya berakhir dan masuk ke penjara seumur hidup.
Peserta ke-100 pun kebingungan. Sebut saja dia Pak Roib. Pak Roib pun berkeliling kerajaan untuk mencari ide. Lalu ia mendengar suara tikus. Ia mengintip suatu ruangan melalui jendela. Dan.. itu adalah gudang penyimpanan gandum. “Wahh banyak sekali” kagum Pak Roib. Namun Pak Roib melihat seekor tikus yang terus memakan gandum itu. Ketika si tikus habis memakan satu karung datang lagi Prajurit kerajaan yang menampung gandum yang telah dipanen ke dalam gudang tersebut. Jadi akan terus bertambah. Akhirnya Pak Roib pun mendapat ide.
“Peserta ke-100 masuk!!” perintah Prajurit kerajaan. Lalu Pak Roib pun masuk. “Kamu jangan kecewakan saya, karena kamu adalah orang terakhir” kata Raja.
Pak Roib mulai bercerita.
“Pada zaman dahulu kala hidup seorang raja yang bijaksana dan baik hati. Rakyatnya makmur dan semua kebutuhannya tercukupi. Di Istana Raja pun hidup makmur. Gudang gandum pun selalu penuh dengan gandum yang telah panen. Namun ada seekor tikus kecil yang terus memakan gandum itu. Tapi, prajurit istana selalu memanen dan memasukkan lagi ke dalam gundang gandum. Tapi tikus itu selalu memakannya dengan perlahan. Sebutir… sebutir… sebutir.. sebutir…” kata Pak Roib. Namun setelah 1 minggu Pak Roib hanya mengucapkan kata sebutir. Itu membuat Raja menjadi heran. “STOP!!! Wahai Pak Roib mengapa engkau hanya menyebutkan kata sebutir?” tanya Raja. “Karena tikus belum selesai memakan satu karung gandum” kata Pak Roib. Lalu Pak Roib pun melanjutkan ceritanya. “Sebutir.. sebutir..” kata Pak Roib panjang lebar. “Baiklah Pak Roib, anda mampu menceritakan cerita tanpa ujung. Kalau anda melanjutkan ceritanya, itu tidak akan habis. Walaupun saya bosan namun, selamat anda berhasil memenangkan sayembara ini. Dan ini ada hadiah dari saya.” kata Raja. “Terima kasih Raja” kata Pak Roib terharu.
Akhirnya Pak Roib pulang dengan perasaan hati gembira sekaligus lelah.
SELESAI
Cerpen Karangan: Dita Zafira Tarmizi
Facebook: Dita Zafira

Kebahagiaan

Kucing-kucing hitam yang lucu bercerita padaku.
“Sebenarnya aku dulu manusia, namun aku lelah menjadi manusia, aku memilih menjadi seekor kucing, aku seperti ini adalah kehendakku…” katanya.
Lalu aku tanyakan, “kenapa kamu lelah menjadi manusia? apakah karena manusia memiliki perasaan, dan di antaranya lelah itu sendiri hingga kamu lelah dan memilih menjadi kucing?”.
“bukan, bukan itu. dulu aku adalah jenderal perang pada sebuah kerajaan, aku telah jauh berpetualang, melebihimu nak! kapal-kapal, panah, pedang, dan pakaian besi adalah temanku sehari-hari. aku memiliki masa muda yang jauh indah darimu, jauh menantang darimu. aku memiliki wanita yang jauh menawan darimu” jelasnya padaku.
“lalu kenapa kamu memilih menjadi seperti ini, bukankah kamu bahagia menjadi manusia, memiliki tahta, memiliki kehidupan yang indah?” tanyaku penasaran.
“aku lelah mengejar kebahagiaan itu sendiri nak! hingga suatu ketika pasukanku porak-poranda. dan aku melarikan diri. semuanya mati, hanya aku yang tersisa karena lari. aku menjauh ke dalam hutan, dan aku diselamatkan seorang kakek tua. dia sungguh baik, hidup sendiri, tapi aku lihat guratan senyum selalu menyertainya.
aku heran, bahkan aku yang telah berpetualang jauh sembari melihat jenaka kehidupan tak pernah bisa sepertinya. lalu aku tanyakan perihal itu. aku juga menanyakan perihal kebahagiaan.
malah dia bertanya kepadaku, ‘pernahkah engkau menanyakan arti kebahagiaan hidup itu sendiri?’, lalu dia menanyakan ‘bagaimana engkau memaknainya selama ini?’.
aku jawab, ‘iya, bahkan hampir setiap hari aku menanyakan itu dan aku memaknai kebahagiaan itu ketika kita mampu bersyukur, mampu membela yang benar, mampu bersabar, kebahagiaan itu, ketika melihat orang lain tersenyum’.
kakek itu menjawab, ‘engkau menanyakan arti kebahagiaan itu sudah kesalahan, sama seperti engkau menanyakan arti kehidupan. juga, hampir semua orang pernah melakukan kesalahan ini, kakek juga dulu seperti itu. kebahagiaan itu dijalani, engkau akan menemukannya dalam perjalanan hidup ini. tak perlu dibuat-buat, tak perlu berpura-pura. begitu juga kehidupan, harus kita jalani. jika engkau memaksaku menjelaskan kebahagiaan padamu, dengarkan ini, duduklah!’ lalu aku menuruti kakek itu, aku duduk, dia juga duduk.
‘kebahagiaan itu dari dalam, itu berarti kita harus membuatnya sendiri. tapi, kebahagiaan yang sebenarnya itu dari luar. engkau akan sedikit bingung. begini nak! kebahagiaan yang dari luar itu kebahagiaan sebenarnya, kebahagiaan yang dari dalam itu adalah kebahagiaan sejati. jadi kita harus membuat sumur kita sendiri di dalam hati kita, yang dalam dan bening. kedalaman hati kita akan mampu mendorong kita untuk selalu bermaksud baik, berprasangka baik, selalu berbuat baik. dan kebeningan hati kita akan mampu menyegarkan hati kita. jika kita memiliki itu, sekalipun amarah kita disulut, keadaan memaksa kita bersedih, kita akan tetap bahagia, kita akan tetap bermaksud baik, tidak dendam, tidak iri. juga, kebeningan hati kita akan mendamaikan, mensejahterakan hati dan jiwa kita’ katanya.
lalu aku memahaminya, dan aku berpamit pulang kekerajaanku sembari membawa berita pasukanku kalah perang.
Di kerajaan, raja sangat marah kepadaku. selama ini, aku memenangi laga peperangan. tapi kali ini, pasukanku tak tersisa satu pun. lalu aku berkata, ‘hamba mengabdi kepada kerajaan, dan telah berusaha semaksimal mungkin. jika raja tidak terima, aku siap dihukum mati’. raja menolaknya, lalu aku berkata, ‘maka aku tidak pantas menjadi jendral kerajaan ini, ah raja. bukankah aku dan engkau adalah teman masa kecil. teman sepermainan. bukankah engkau dan aku yang paling tahu sifat masing-masing. aku mohon, tidak lagi untuk menjadi jendral perang. bolehkah aku memilih menikmati sisa-sisa akhir hidupku?’ sontak raja pun kaget. tapi apalah, itu kehendakku. urusannya semakin sulit. satu bulan kemudian, aku sudah tidak menjadi jendral.
lalu aku berkeliling, berpetualang. aku menemukan penyihir. dan aku memintanya untuk menjadikan aku burung, tapi dia tak sanggup. aku memnintanya jadikan aku apapun, asal aku tidak jadi manusia. dan ia menyihirku menjadi kucing.
sekarang, aku tak tahu berapa umurku, mungkin sudah ribuan. dan pernah aku menyesal, seharusnya aku menyelsaikan kisah hidupku dengan indah nak! tapi ini sudah terlanjur. maka, selama engkau menjadi manusia dan menjalani kehidupan, jangan berfikir untuk menjadi burung yang terbang bebas, bahkan kucing sepertiku berharap menjadi manusia. buatlah, karanglah kisah yang indah dalam kehidupanmu, dari awal sampai akhir, tak perlu diceritakan, simpan dalam hati yang dalam nak! ingat, semua manusia dapat memilih kisah hidupnya, juga kebahagiaan sejati itu dari dalam, bukan dari luar nak!”


Cerpen Karangan: Sukasir
Facebook: https://www.facebook.com/soekasir